Pengrajin Peserta Sosialisasi dan Inkubasi Malam Sawit di Cirebon. (Dok. Yogan/BPDPKS)

Berdayakan Perempuan Dengan Buat Batik Berbahan Baku dan Motif Sawit

FORTASBI – Hilirisasi produk kelapa sawit terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah kelompok tani swadaya maupun para perempuan yang berada di Kawasan Perkebunan Sawit atau wilayah lainnya.

Industri batik menjadi salah satu pilihan yang harus terus didorong, karena bisa menambah nilai tambah sawit dalam negeri. Motif batik nasional terus berkembang seiring dengan ditetapkannya hari batik nasional dan menjadi pakaian baik formal maupun informal.

Batik yang merupakan hasil karya bangsa Indonesia, perpaduan antara seni dan teknologi terus berkembang hingga sampai pada suatu tingkatan yang tidak ada bandingannya baik dalam desain atau motif maupun prosesnya.

Corak ragam batik yang mengandung penuh makna dan filosofi akan terus digali dari berbagai adat istiadat maupun budaya yang berkembang di Indonesia, termasuk corak batik yang terinsiprasi dari kelapa sawit.

Misalnya, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggandeng CV Smart Batik sebagai salah satu pelopor penggunaan malam sawit dalam produksi batik dengan bahan baku dan motif sawit.

Smart Batik telah melakukan serangkaian uji coba dan pengembangan malam berbahan baku minyak sawit yang dapat digunakan dengan baik dalam memproduksi kain batik.

Para pengrajin diberikan pelatihan proses mencanting yang biasanya menggunakan malam (lilin) berbasis minyak bumi atau wax parafin, namun disubtitusi dengan malam (lilin) berbahan baku minyak sawit (malam sawit). Malam digunakan sebagai perintang warna dalam proses membatik.

Selain itu, mengembangkan pontensi perempuan Petani Sawit Swadaya FORTASBI telah mendukung upaya Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML), menyelenggarakan sesi pelatihan ecoprint bagi perempuan sekitar perkebunan.

Kala itu, pada 2023 lalu APBML menyelenggarakan pelatihan ecoprint, sebuah teknik pencetakan dengan menggunakan bahan alami atau organik untuk menghasilkan pola pada kain.

Kala itu, pelatihan diikuti 15 perempuan dari Kelompok Wanita Tani (KWT) dan ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Lubuk Lawas, pada Senin, 20 November 2023.

Program ini, menjadi bagian dari pemberdayaan perempuan di Kawasan perkebunan sawit swadaya. Di mana, APBML menyisihkan sebagian dana dari hasil penjualan Kredit RSPO untuk mendukung pelatihan. Hal ini harus terus dikembangkan agar hilirisasi sawit bisa berdampak langsung pada perempuan.

“Saya mau terlibat di kegiatan pemberdayaan perempuan karena saya yakin dan percaya dengan keuletan ibu-ibu dan kaum perempuan. Mereka hanya butuh didukung, dibina, dipertemukan dengan pasar produknya supaya hasil karya mereka bisa berkelanjutan,” kata Anggota APBML Susi Wahyuni, yang berada esa Lubuk Lawas. Kecamatan Batang Asam Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

| Rekomendasi Untuk Anda