Daerah Aliran Sungai Pengabuan Tanjung Jabung Barat Jambi

FORTASBI dan Setara Menguatkan Para Penjaga Kelestarian Sungai Pengabuan Jambi

FORTASBI – Kelestarian sungai sangat mempengaruhi kondisi masyarakat, terutama terkait pasokan air bersih dan berimplikasi pada produksi pangan.

Di Provinsi Jambi, selain sungai Batanghari, ada Sungai Pengabuan, yang terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan panjang berkisar 120 kilometer dan lebar di hulu mencapai 841 meter.

Kondisi Sungai Pengabuan yang menjadi urat nadi kehidupan warga dan terbesar ke-2 di Provinsi Jambi, mendorong lahirnya partisipasi masyarakat dengan membentuk Kelompok Pemantau Sungai (KOMPAS), yang ingin menjaga kelestarian dan ekosistem sungai.

Paling tidak, sudah ada 10 desa yaitu Desa Suban, Lubuk Lawas, Tanjung Paku, Merlung, Dusun Mudo, Lubuk Terap, Pulau Pauh, Rantau Badak, Sungai Rotan dan Muara Danau, yang bergabung dalam inisiatif ini.

KOMPAS yang lahir pada 2022, dengan dorongan organisasi Setara Jambi, terus menguatkan rencana dan program-program aksi untuk menjaga ekosistem, kelestarian dan rehabilitasi sungai.

Salah satunya, dengan dukungan datang dari Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), forum yang digagas oleh beberapa NGO dan organisasi petani kelapa sawit di Indonesia.

KOMPAS, dengan bantuan dari FORTASBI diberikan penguatan manajemen kelembagaan agar program yang dirancang masyarakat desa, dalam menjaga hulu Sungai Pangabuan yang berada Kecamatan Merlung dan Kecamatan Renah Mendaluh, lebih terkoordinir dan baik dalam manajemennya.

Sungai yang masuk aliran anak Sungai Batang Asam dan bermuara di Kecamatan Tungkal Ilir menuju Selat Karimata Laut China Selatan, dengan keberadaan adanya lembaga KOMPAS yang manajemenya baik, bisa berdampak pada ekosistem sungai yang terjaga.

Aktivis Setara Jambi Dwi Yul Maulina memaparkan, saat ini dengan dukungan FORTASBI dan Setara Jambi, kelembagaan KOMPAS terus diperkuat.

Selain itu, kata Dwi, terus mendorong dan memberikan semangat agar keaktifan anggota dalam menjaga kelestarian sungai, melalui edukasi ke masyarakat, aksi nyata seperti penanaman pohon dan penyebaran bibit ikan serta berkolaborasi dengan petani sawit swadaya dan pekebun hutan bisa terlaksana.

Dalam pelatihan penguatan organisasi yang didukung FORTASBI, anggota KOMPAS didorong untuk aktif menyampaikan pendapat dan aspirasinya terkait apa saja yang mereka temui di desa masing-masing dalam hal penjagaan, pengawasan dan kegiatan tentang konservasi sungai mereka.

“Kegiatan ini juga dilakukan untuk menghidupkan dan menguatkan organisasi KOMPAS dari 10 Desa tersebut, yang dinamai KOMPAS Pengabuan Lestari,” katanya.

Dalam pelatihan yang berlasung selama 2 hari di Kecamatan Merlung, berbagai hal diutarakan para penjaga sungai ini, serta bagaimana lebih banyak melibatkan anak muda untuk melindungi daerah tangkapan air (DTA). Karena keterbatasan pengurus yang rata-rata hanya 3 orang setiap desa.

“Saat ini, dari 10 desa paling aktif ada di Lubuk Lawas, karena mengkombinasikan kegiatan dengan anak-anak muda terutama karang taruna,” katanya Dwi.

FORTASBI yang memiliki 56 anggota dengan jumlah petani swadaya yang dibina mencapai 14.687 petani, dan jumlah lahan/kebun yang digarap mencapai 32.987 hektar dengan produksi TBS bersertifikat sebesar 1.043.417 ton per tahun, atau setara dengan 208.683 ton CPO per tahun, mendorong adanya sawit berkelanjutan dan mendukung inisiatif warga dalam menjaga ekosistem lingkungan, baik hutan dan hulu sungai sampai hilir.

Petani sawit swadaya yang menjadi anggota FORTASBI, yang merupakan petani yang sudah memiliki sertifikat RSPO dan ISPO, dalam pengelolaan kebunnya mengedepankan keberlanjutan lingkungan.

Bahkan, petani sawit swadaya terus didorong berkolaborasi, misalnya dengan kelompok perempuan membuat kebun pembibitan selain sawit, yang hasilnya dibeli petani sawit untuk ditaman di daerah aliran sungai atau hutan desa.

| Rekomendasi Untuk Anda

Partner Kami

Partner Kami

Get Connected

©Yayasan FORTASBI Indonesia