FORTASBI – Di bawah terik matahari dan ancaman kemarau panjang yang kerap menghantui, sebuah kisah inspiratif tentang pelestarian alam dan kemandirian, lahir dari Kabupaten Tebo. Adalah Perkumpulan Petani Sawit Rimbo Ulu (PPSRU), sebuah kelompok yang menjadi wadah bagi 1.421 petani sawit swadaya yang kini merajut harapan di atas lahan seluas 2.510,70 hektare.
Dedikasi dan kerja keras mereka berbuah manis dirasakan pada musim kemarau panjang ini. Kelompok petani yang menerima sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini, telah mengembangkan praktik budidaya yang ramah lingkungan melalui penggunaan pupuk organik.
Menariknya, mereka tidak mencari bahan yang jauh atau mahal. Alam dan lingkungan sekitar menyediakan segalanya. Para petani memanfaatkan kotoran hewan ternak seperti sapi, kambing, dan ayam, memilah sampah pasar dan sampah buah-buahan, hingga mengumpulkan air cucian beras.

Tak hanya itu, mereka juga menggunakan pelepah sawit yang dicacah serta memproduksi pupuk cair biochar. Tentu saja, sebuah perubahan besar tidak pernah terjadi dalam semalam. Mengubah kebiasaan lama para petani membutuhkan waktu, kesabaran, dan pendekatan yang empatik. Namun, dengan terus memberikan informasi dan yang terpenting menyajikan bukti nyata di lapangan, perlahan tapi pasti semakin banyak petani yang tergerak hatinya untuk mengubah kebiasaan.
Sulamto, selaku Group Manajer PPSRU, membagikan sebuah fakta yang melegakan. Langkah penggunaan pupuk organik ini ibarat perisai; berkatnya, produksi sawit petani tetap stabil meski di tengah gempuran kemarau panjang yang saat ini melanda.
Praktik yang penuh kesabaran dan diterapkan oleh petani Rimbo Ulu ini membuat pemulihan ekosistem tanah dan lingkungan semakin baik.
Bukan hanya soal tanah yang lebab di tengah kemarau, dengan beralih ke pupuk organik, petani dapat menekan biaya operasional secara signifikan karena berkurangnya penggunaan pupuk kimia yang mahal. Meskipun saat ini produksi pupuk organik masih dilakukan secara perorangan, PPSRU berencana untuk segera melakukannya secara berkelompok di masa depan.

Langkah kolektif ini diambil karena manfaat penggunaan pupuk organik di lahan perkebunan sawit sudah sangat dirasakan oleh para petani. Selain itu, kebun-kebun petani sawit swadaya terus didorong agar membiarkan rumput tumbuh sebagai penutup tanah alami dipadukan dengan inovasi mencacah pelepah kelapa sawi yang membuat proses pembusukannya semakin cepat dibandingkan jika hanya ditumpuk.
“Semua Langkah ini, terutama pada perbaikan kualitas diharapkan mampu menopang produksi sawit yang stabil secara jangka Panjang,” katanya.
Keberhasilan PPSRU dala

m menghijaukan kembali kebun-kebun mereka ternyata tak hanya menjadi kebanggaan lokal. Gaung keberhasilan ini terdengar hingga ke seberang pulau, membuat sekelompok petani dari Kalimantan Barat rela datang berkunjung hanya untuk melihat langsung perkembangan inovasi pupuk organik yang dilakukan di Rimbo Ulu.
Kisah dari Tebo ini menjadi pengingat yang indah, saat kita sudi merawat bumi dengan cinta dan kearifan, maka bumi tak akan pernah pelit memberikan yang terbaik.
















