Pelatihan pendataan kebun APKSM

Dari Ruang Kosong, APKSM Menjelma Jadi Kelompok Bawa Kesejahteraan dan Harmoni Alam

FORTASBI – Ada cerita getir di awal-awal pendirian Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Setelah menyewa sebuah gedung, menyiapkan katering, dan mengundang 100 orang, namun yang hadir hanya segelintir. Momen menyayat hati itulah yang masih terpatri kuat dalam ingatan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) Widodo.

Dari 100 petani swadaya yang diundang untuk sosialisasi sertifikasi pada hari itu, hanya 20 orang yang menampakkan. Lebih ironis lagi, dari 20 orang tersebut, hanya dua orang yang akhirnya bersedia mendaftar.

Namun, siapa sangka, dari penolakan pahit di ruang sosialisasi tersebut, kini lahir sebuah kekuatan besar yang tidak hanya menyejahterakan ratusan anggotanya, tetapi juga menyelamatkan nyawa satwa liar di pedalaman hutan di Kalimantan.

Masa awal pendirian yang menguji kesabaran, menjadi kisah sukses perjuangan kelompok petani sawit swadaya, dari kelembagaan hingga harga tandan buah segar yang belum memberikan untung di era 2000-an. Harga Tandan Buah Segar (TBS) sangat merosot, hanya dihargai sekitar Rp 300 hingga Rp 500 per kilogram.

Ketua APKSM Widodo

Titik balik itu tiba pada 27 Maret 2019, ketika inisiatif pendirian APKSM resmi digulirkan. Berbekal komitmen bersama Kepala Desa Kadipi Atas dan didampingi secara intensif oleh mitra fasilitator PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS), langkah awal menuju sertifikasi RSPO pun dimulai.

Namun, jalan menuju perubahan nyatanya sangat terjal. Pandemi COVID-19 yang tiba-tiba melanda membuat segala ruang gerak menjadi sangat terbatas. Mengkomunikasikan konsep sertifikasi berkelanjutan, kala itu masih sangat asing di telinga masyarakat.

Upaya meyakinkan para petani swadaya bahwa cara bertani yang baru ini akan membawa dampak baik di masa depan jelas tidak bisa dilakukan hanya dalam satu dua tiga kali pertemuan. Tapi akhirnya, bisa tercapai pada 2019.

Pertama kali saat dana hasil penjualan kredit RSPO cair, APKSM langsung membagikan bantuan sembako dari hasil tersebut kepada masyarakat. Petani juga merasakan manfaat nyat mulai dari pembagian Tunjangan Hari Raya (THR), alat pelindung diri (APD), hingga insentif lainnya.

Baru setelah dirasa ada bukti nyata, petani mulai mendaftarkan sisa lahan mereka dan mengajak para tetangga untuk bergabung. Kini, kelembagaan yang di awal pendiriannya hanya mencakup dua desa Kadipi Atas dan Sungai Rangi Jaya telah berekspansi luas menjadi lima desa, merangkul Pangkalan Durin, Purbasari, dan Sumber Agung.

Kepedulian Menembus Batas

APKSM terus bertranspormasi, dari ruang kosong kini memiliki sekretariat tetap, dan rutin menyalurkan dana hasil kredit untuk menambah Pendapatan Asli Desa (PADes) serta program tanggung jawab sosial (CSR).

APKSM, berkolaborasi dengan mitra PT SSMS dan yayasan BOSF, asosiasi ini menggunakan dana CSR mereka untuk mendanai program pra-pelepasliaran orangutan di Pulau Salat, Kabupaten Pulang Pisau.

Mereka menanggung penuh biaya pakan individu orangutan selama satu tahun agar primata tersebut siap untuk kembali ke habitat aslinya. Pada 3 Juni 2022, Widodo bersama rekan-rekannya terjun langsung ke lapangan untuk melepasliarkan individu orangutan yang telah pulih ke alam liar sebuah pengalaman emosional yang amat berharga.

Kini setelah berperih demi sawit berkelanjutan, para petani ini menyadari betul bahwa kelestarian hutan dan keberlanjutan alam justru berutang besar pada peran orangutan, yang bertugas menebarkan benih tanaman baru melalui kotorannya ke penjuru hutan.

Perjalanan APKSM membuktikan secara nyata bahwa narasi negatif yang kerap menyudutkan industri sawit sebagai perusak ekosistem bisa dipatahkan. Dari balai pertemuan kosong yang hanya menyisakan rasa kecewa, kini ratusan anggota berdiri koko membawa pulang kesejahteraan bagi keluarga, tanpa melupakan harmoni alam. (*)

| Rekomendasi Untuk Anda