Pelatihan Konten Kreator

FORTASBI Ngoten Sawit Berkelanjutan dan Konservasi Orang Utan Dengan Para Konten Kreator Gen Z

FORTASBI – Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) mengajak para konten kreator muda untuk bersama meningkatkan kapasitas dalam produksi dan isu sawit berkelanjutan di media social dalam workshop atau pelatihan pelibatan konten creator muda untuk edukasi generasi z tentang petani swadaya dan sawit berkelenjutan.

Ada 18 peserta yang ikut dalam kegiatanya ini yang berasal dari berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Yogyakarta, Surabaya, Kalimatan Barat, Jambi, dan Kalimantan Tengah.

Para peserta dari generasi z yang suka membuat konten antusias mengikuti kegiatan kelas dan lapangan, selama tiga hari kegiatan 25 – 27 September 2025 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Di dalam kelas, peserta diberikan pengetahuan terkait sawit berkelanjutan dari oleh Rukaiyah yang merupakan kepala sekretariat FORTASBI, Fara Rom dari RSPO dan Bintang dari PT SSMS.

Selain diskusi kelas, peserta dibawa untuk melihat langsung pengelolaan kebun sawit petani swadaya, milik petani, untuk melihat praktik keberlanjutan.

Bukan hanya melihat praktik baik pengelolaan kebun, para peserta juga mengunjungi area konservasi orang utan di Pulau Salat, Desa Pilang, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimatan Tengah.

Kunjungan ke area konservasi pulau salat yang dikelola PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), dengan tujuan memperkenalkan pada konten creator jika ada praktik baik yang dilakukan pelaku usaha perkebunan sawit untuk orang utan yang selama ini diisukan selalu berkonflik.

Pelatihan ini juga menghadirkan trainer yang berpengalaman Rachmat Kurniawa Idrus, seorang konten creator dan pembuat film, yang membimbing para peserta untuk meningkatkan keterampilan teknis dalam pengambilan video, suara dan editing.

Kepala Sekretriat FORTASBI Rukaiyah Rafik memaparkan, konten kreator memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi terkait sawit berkelanjutan dan upaya upaya konservasi karena pengaruhnya di media sosial.

“Kami percaya mereka menjadi agen perubahan, asalkan terus diberikan pengetahuan yang memadai dan selalu diajak kolaborasi dalam berbagai kesempatan,” ujarnya.

Seorang Konten Kreator Hikmat Yani Chaniago mengungkapkan, antusiasnya mengikuti workshop serta kunjungan lapangan untuk melihat praktik baik pengelolaan kebun petani dan upaya konservasi orang utan yang dilalukan perusahaan sawit.

“Selama ini kami terpapar dengan informasi negatif sawit, namun dengan pelatihan dan kunjungan ini, ternyata banyak hal yang terjadi dan banyak upaya baik yang bisa jadi konten agar publik lebih tahu. Kami selama ini minim informasi soal sawit berkelanjutan,” katanya.

Reza Khadapi mengungkapkan, pelatihan ini bukan hanya meningkatkan skill dalam keterampilan membuat konten. Namun, lebih dari itu, peserta mendapatkan banyak informasi terkait sawit berkelanjutan, sertifikasi ISPO dan RSPO, rantai pasok, kondisi petani sawit swdaya, serta upaya-upaya keberlanjutan yang dilakukan perusahaan sawit.

“Kami merasa senang ikut agenda ini. Dalam kujungan lapangan banyak hal yang kami dapatkan,” ungkapnya.

FORTASBI menilai, pendekatan kreatif sangat dibutuhkan untuk mengkampanyekan berbagai praktik baik serta pelestarian lingkungan.

Para konten kreator, yang sudah menguasai visualisasi serta audio yang bisa viral, bagi FORTASBI, diharapkan semakin menguatkan dalam segi isi atau informasi yang diberikan pada publik sehingga ruang media sosial penuh dengan konten-konten yang memberikan edukasi pada netizen.

| Rekomendasi Untuk Anda