FORTASBI – Nurhayati, 52 tahun, biasa dipanggil ibu Nur, sejak 20 tahun mengelola kebun sawit secara mandiri. Jika awalnya kebun sawitnya hanya 1 hektar, kini luas kebunnya menjadi 3 hektar.
“Sejak saya ikut sertifikasi RSPO bersama dengan KPUD Lestari tahun 2018, pendapatan saya naik sehingga saya beli lahan sawit lagi 2 hektar. “Untuk membantu biaya sekolah anak saya yang berjumlah 3 orang,” ungkap Bu Nur.
Ibu Nurhayati adalah petani perempuang yang beruntung, karena beliau adalah termasuk 9 perempuan delegasi Kementrian Luar Negeri yang melakukan road show ke 3 negara yaitu Brussel, London dan Roma pada 13-19 September 2025.

Bersama 8 perempuan lainnya Bu Nurhayati aktif menyuarakan tentang problem petani sawit di lapangan, terutama perumpuan dan dampak regulasi EUDR terhadap petani sawit termasuk pada perempuan.
Perempuan adalah penopang pangan keluarga , dipundak mereka tanggung jawab besar diletakkan. Jika kelapa sawit mereka tidak terjual, maka perempuan adalah pihak yang paling berdampak.
“Selama ini kami telah mengikuti sertifikasi RSPO bersama KPUD Lestari, dan telah merubah pola pengelolaan terhadap kebun,” ujarnya.

“Kami tidak lagi menggunakan kimia yang banyak seperti sebelum kami bersertifikat RSPO, malah saat ini kami dibantu untuk menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan ternak, kami tidak lagi meracun sungai, tidak memperkerjakan perempuan hamil dan anak-anak,” ungkapnya.
Sebagai Komite Gender di KPUD Lestari, Bu Nur bertugas mendorong keterlibatan perempuan di koperasi. Namun sejak adanya isu kebijakan Eropa yang baru,petani sawit perempuan sangat kawatir, karena katanya kebijakan baru ini tidak mengakui sertifikasi RSPO.” katanya.
Padahal, kata ia, untuk ikut RSPO tidaklah mudah dan tidak murah. jika kebijakan Eropa (EUDR) ini tidak mengakui sertifikasi RSPO, maka perjuangan akan terasa sia-sia selama ini.

“Kami ingin kebijakan EUDR ini mempertimbangkan perjuangan kami sebagai perempuan dan mempertimbangkan kondisi petani kecil. Kami tidak menolak kebijakan yang baik ini, sama halnya kami tidak pernah menolak skema sertifikasi, tapi mohon agar kebijakan tersebut diterapkan secara bertahap, bertahap waktu dan bertahap penerapan.” Sambung Bu Nur disela-sela testimoni yang disampaikan dihadapan para pemangku kepentingan di London, Inggris.
Ibu Nurhayati, bukanlah pejabat, dia hanya seorang petani Perempuan yang mengelola 3 hektar kebun sawit di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.
Selain sebagai petani, Ibu Nur bersama beberapa perempuan lainnya juga memanfaatkan lidi sawit untuk dibuat bermacam-macam kerajinan dan sapu.
Ibu Nur dan teman-temennya terkenal dengan sebutan Carli (Pencari Lidi) Angels. Bagi ibu Nurhayati sawit adalah sumber kehidupan.
“Kami akan mati-matian untuk merawat dan mempertahankan sawit.”
















