FORTASBI – Percikan air Sungai Pengabuan berkilau diterpa sengatan matahari kemarau siang itu. Gemuruh tawa, seruan kegembiraan, dan kecipak langkah kaki ratusan orang memecah kesunyian tepian Desa Pulau Pauh, Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.
Dari anak-anak, para pemuda desa, hingga kaum ibu, semuanya berbaur dalam satu perayaan alam: Pesta Rakyat Pembukaan Lubuk Larangan. Selama dua tahun lamanya sejak 2024, bentang sungai ini dijaga layaknya ruang suci. Tak boleh ada kail yang terjulur, tak boleh ada jala yang terlempar.
Dan hari itu, pantangan adat tersebut resmi dibuka. Dengan jala berputar di udara, tombak tradisional, dan panah air di tangan, warga serentak melompat ke dasar sungai. Selang beberapa menit, decak kagum membahana. Ikan-ikan endemik air tawar seperti semah, lampam, hingga baung berukuran besar menggelepar di permukaan jaring.

Bobotnya tidak main-main berkisar antara setengah kilogram hingga tiga kilogram per ekor. Ukuran yang kian langka ditemui di perairan terbuka Sumatera yang terancam sedimentasi dan pencemaran. Ikan-ikan montok itu bukan sekadar santapan, melainwangi ikan sertifikat kelulusan dari sebuah kerja keras merawat alam.
Pesta rakyat ini menjadi saksi titik balik. Yang menjadi motor penggerak konservasi adalah Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS MRM), sebuah perkumpulan petani kelapa sawit swadaya bersetifikat setempat. Sering kali sawit dipandang berjarak dengan isu pelestarian air. Namun, para petani swadaya di dua kecamatan ini membuktikan sebaliknya.

Sejak 2024, mereka menyatukan visi pengelolaan Nilai Konservasi Tinggi (NKT/HCV) dan skema Smallholder Social Responsibility (SSR) mengajak pemuda dan masyarakat desa untuk membuat Lubuk Larangan. Mereka menyisihkan anggaran kas organisasi, membagikan bibit pohon, menghijaukan kembali sempadan sungai agar tebing tak longsor, hingga mengalokasikan dana stimulan sebesar Rp 3 juta demi memeriahkan pesta rakyat desa.
“Kami sangat senang, apa yang dilakukan dua tahun lalu kini membuahkan hasil. Ternyata ekosistem membaik, dibuktikan dengan bertumbuhnya ikan dan sungai yang terjaga,” ungkap M. Suhaili, Group Manager Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh, dengan mata berbinar.

Kebersamaan kian terasa saat asap tipis mulai mengepul dari bibir sungai. Sebagian warga memilih langsung membersihkan dan memanggang ikan hasil tangkapan di tempat. Gelak tawa antarwarga mengalir seirama gemericik arus sungai dan wangi ikan bakar dipiring warga, sementara sisanya dibawa pulang ke rumah sebagai berkah rezeki dapur keluarga.

Bagi petani sawit swadaya menghidupkan lagi Lubuk Larangan yang merupakan warisan leluhur, telah mengajarkan mereka satu hal mendasar, Ketika memberi ruang bagi sungai untuk bernapas, alam akan membalasnya dengan kelimpahan yang tak pernah putus.















