Pelatihan pertanian regeneratif

FORTASBI dan SNV Promosi Pertanian Regenerative di Sumatera Utara

FORTASBI – Industri kelapa sawit selalu dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama terkait pengelolaan lingkungan dan lahan. Termasuk, kritik pada pengelolaan perkebunan yang dilakukan petani sawit swadaya yang tidak ramah lingkungan, dan terkesan penggunaan kimia berlebihan dan tidak sesuai dengan aturan perundangan.

Sumatera Utara adalah provinsi yang memiliki sejarah panjang dalam perkebunan kelapa sawit, lebih dari 100 tahun kelapa sawit ditanam di tanah ini. Hal ini tentu berdampak pada menurunnya kualitas tanah akibat penggunaan kimia yang intensif.

Agar tanah Kembali subur dan dapat digunakan untuk pertanian jangka Panjang, FORTASBI kolaborasi dengan SNV dan didukung oleh Unilever, mengembangkan kerjasama dalam program dukungan untuk petani swadaya untuk sertifikasi sawit berkelanjutan dan promosi pertanian regenerative.

Pertanian regeneratif bukan hanya tentang menghasilkan minyak sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, tetapi memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. Pertanian regeneratif diyakini sistem pertanian yang melampaui praktik berkelanjutan.

Dalam pertanian regeneratif, bukan sekadar mengurangi dampak negatif, pendekatan ini aktif bekerja untuk memperbaiki dan meregenerasi ekosistem pertanian.

Bagi petani sawit swadaya, adopsi prinsip-prinsip didorong oleh kesadaran akan pentingnya menjaga kesuburan tanah atau lahan untuk generasi mendatang, dan mengurangi ketergantungan pada input kimiawi yang mahal.

Salah satu praktik kunci dari program, FORTASBI memberikan peningkatan kapasitas berupa pelatihan BMP dan pertanian regeneratif yang mencakup cara panen, pemeliharaan termasuk aplikasi pupuk, dan cara membuat dan menggunakan kompos. Bahkan, pelatihan standar keberlanjutan yang masuk ke dalam pelatihan BMP, HCV dan FPIC.

Dalam program kolaborasi dengan SNV ini, telah ada sekitar 1.558 petani sawit swadaya mendapatkan manfaat dan memiliki pengetahuan tentang manajemen perkebunan, persyaratan standar keberlanjutan, serta pengetahuan pertanian regeneratif melalui pengurangan penggunaan bahan kimia dengan pengelolaan residu panen juga menjadi fokus utama. Alih-alih membakar pelepah dan tandan kosong kelapa sawit, para petani swadaya didorong mengolahnya menjadi kompos atau mulsa.

Sebelumnya, FORTASBI juga telah memulai promosi model pertanian regenerative di Tanjung Jabung Barat, Jambi, di mana ada sekitar 750 petani swadaya mendapatkan pelatihan dan pendampingan mengenai pertanian regenerative.

Jika di sumatera utara, FORTASBI dan SNV mengedepankan penggunaan pupuk kompos dari sumber kotoran ternak, di Jambi FORTASBI mempromosikan penggunakan pupuk kompos dari limbah Tandan Kosong (Tankos) Kelapa sawit.

Model pertanian regenerative sebetulnya tidak hanya penggunaan pupuk organik, tapi juga pengelolaan lahan yang minim kimia berupa herbisida dan pestisida juga menjadi bagian dari model pertanian regenerative.

Untuk itu, FORTASBI bersama dengan NGO yang konsen dengan pertanian regenerative akan terus mempererat kolaborasi untuk terus mempromosikan model pertanian regenerative sebagai solusi untuk pemulihan kesuburan tanah sebagai kunci dari pengelolaan sawit berkelanjutan.

| Rekomendasi Untuk Anda