Kebun sawit

Sawit Berkelanjutan Berdampak Pada Capaian Nol Emisi Karbon

FORTASBI – Kelapa sawit dinilai sebagai komoditas yang paling siap mendukung pencapaian Net Zero Emission (NZE) atau nol emisi karbon di sektor industri tahun 2050.

Program Sawit Indonesia Emas 2045 telah diarahkan untuk meniadakan emisi karbon pada industri sawit nasional. Tetapi kunci mencapai itu adalah pengembangan sektor industri yang berkelanjutan (sustainable) dan mampu tertelusur (treaceable) sebagai prasyarat penerimaan produk hilir kelapa sawit di pasar global.

Direktur Industri Hasil Laut dan Perkebunan, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Setiadi Diarta menyatakan pada 2045 dapat tercapai postur industri kelapa sawit hulu hingga hilir yang berkelanjutan dan sejalan dengan ultimate goals pertumbuhan sektor industri yang mandiri, berdaulat, maju, berkeadilan, dan inklusif.

Nilai ekonomi sektor kelapa sawit hulu – hilir nasional mencapai lebih dari Rp750 triliun per tahun, setara dengan 3,5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional tahun 2023 yang mencapai Rp20.892 triliun.

Seiring dengan perkembangan sektor hulu, pabrik kelapa sawit telah berkembang dengan pesat, terutama dengan berkembangnya digitalisasi dan Artificial Intelligence (AI), yang didukung ilmu komputer maka pabrik kelapa sawit di dunia pun berkembang dengan menghasilkan produksi yang lebih bernilai dan tentu saja lebih efisien.

“Perkembangan teknologi pabrik kelapa sawit di Indonesia pun tidak boleh stagnan namun harus mengikuti kondisi saat ini,” ujar Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian 2006-2010 Achmad Mangga Barani.

Teknologi pabrik kelapa sawit yang baik, lanjutnya, yakni yang efisien dan meminimalkan dalam prosesing lost, dapat meminimalkan kehilangan minyak.

Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI) Tatang Hernas Soerawidjaja menyatakan produksi minyak sawit mentah (CPO) yang dipraktekkan oleh pabrik-pabrik kelapa sawit (PKS) sekarang ini menggunakan teknologi yang berumur sudah lebih dari 100 tahun sehingga boros penggunaan air dan boros sumber energi.

“Teknologi produksi minyak sawit mentah yang kian hemat air dan hemat energi perlu dikembangkan. Meminimalkan volume limbah cair yang harus diolah maupun penggunaan biomassa non-minyak yang terkandung di dalam tandan buah segar kelapa sawit,” katanya.

“Teknologi pengolahan TBS harus diubah dari “wet-process” ke “dry-process” atau tanpa steam perlu dijalankan agar Emisi GRK rendah; kandungan Phyton trients didalam minyak tinggi da ; tidak terjadi pencemaran lingkungan dari Limbah Cair (No POME),” katanya.

| Rekomendasi Untuk Anda

Partner Kami

Partner Kami

Get Connected

©Yayasan FORTASBI Indonesia