MerahPutih.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada Mei, dan Juni 2026 dan ada peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini.
Pemodelan iklim menunjukkan untuk intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50 persen sampai 80 persen, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat.
Menghadapi prediksi datangnya fenomena iklim El Nino ini, Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), mengimbau petani untuk mengambil langkah persiapan dan antisipasi.
Kondisi kekeringan dapat menyebabkan tanaman kelapa sawit mengalami kekurangan air, menurunkan hasil panen (produksi buah/ tandan buah segar), serta meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Ketua Yayasan FORTASBI Sutiyana meminta petani bersama-sama menjaga kebun dengan menerapkan langkah-langkah antisipasi, seperti pengelolaan pengelolaan air dengan membuat sumur resapan, melakukan pertanian regeneratif untuk menjaga kelembapan tanah di area pohon dengan tumpuk pelepah.
Selain itu, penyusunan pelepah hasil pemangkasan, yang berguna juga untuk untuk mengurangi penguapan air dari dalam tanah.
Langkah lain yang bisa dilakukan adalah manfaatkan tanaman penutup untuk tanaman kacangan atau gulma lunak yang tidak mengganggu sawit.
“Yang penting juga adalah kewaspadaan terhadap kebakaran lahan, tidak pembersihan lahan dan membakar tumpukan sampah dengan cara dibakar.” katanya.
FORTABI meminta para petani untuk memaksimalkan penggunaan pupuk organik, karena saat tanah sedang sangat kering, gunakan pupuk organik atau tandan kosong agar produktivitas tetap terjaga.
“Tandan kosong kelapa sawit atau jankos dan pupuk kompos, bisa menahan air dan menjaga suhu tanah tetap sejuk atau sedikit basah,” ungkapnya.
















