FORTASBI – Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) Bersama Perkumpulan Petani Sawit Tenggulun Lestari (Pesatri) Aceh Tamiang, Aceh, berkolaborasi membangun inisiatif perlindungan dan rehabilitasi lahan.
Seperti diketahui, pada akhir tahun 2025, wilayah Aceh dilanda banjir besar, termasuk wilayah Aceh Tamiang. Banjir ini, bukan hanya akibat cuaca ekstrem tapi juga kondisi hulu sungai dan hutan yang mengalami perubahan dan alih fungsi.
Inisiatif perlindungan dan rehabilitasi yang dimaksud adalah untuk mendorong petani swadaya tidak hanya mempraktekkan budidaya kelapa sawit berkelanjutan, tapi juga bergerak untuk mempraktekkan model pengelolaan lahan yang regeneratif dan mendorong pada pengelolaan kebun dengan konsep agro-biodiversity dan agro-ecology.

FORTASBI dan Pesatri membangun area pembibitan berbagai jenis tanaman hutan dan buah khas Aceh untuk nantinya ditaman di lahan lahan kritis dan area dengan nilai konservasi tinggi.
Beberapa pohon yang dibibitkan antara lain Mangga, Manggis, Durian, Kemenyan, Jati, Petai, Jengkol, Alem, Kayu Manis dan Rambutan.
FORTASBI menilai, petani swadaya adalah pihak penting yang harus dilibatkan dalam inisiatif perlindungan dan rehabilitasi lahan.
Dengan jumlahnya yang mencapai 2,7 juta petani dan menguasai hamper 41 persen lahan perkebunan sawit di Indonesia, adalah angka yang sangat signifikan dan jika petani ini dilibatkan dalam inisiatif perlindungan dan rehabilitasi, maka dampak yang dihasilkan sungguh sangat besar.

Inisiatif perlindungan dan rehabilitasi antara FORTASBI dan Pesatri, untuk mendorong petani swadaya tidak hanya mempraktekkan budidaya kelapa sawit berkelanjutan, tapi juga bergerak untuk mempraktekkan model pengelolaan lahan yang regeneratif dan mendorong pada pengelolaan kebun dengan konsep agro-biodiversity dan agro-ecology.
Selain itu, FORTASBI sedang mengembangkan model perlindungan areal bernilai konservasi tinggi dan bernilai karbon tinggi yang berada di areal plot petani dan juga dalam landscape di mana petani beroperasi.
“Model perlindungan dan rehabilitasi yang sedang berjalan saat ini akan terus dikembangkan oleh FORTASBI pada anggotanya dan akan didorong menjadi model Agro-Biodiversity. Ini adalah Upaya untuk menvigasi transisi Petani swadaya dari proses sertifikasi sawit berkelanjutan menuju landscape berkelanjutan,” ujar Kepala Sekretarit FORTASBI Rukaiyah Rafik.

Sekretaris Pesatri Putra Gunawan mengambut baik kolaborasi ini, mengingat setelah adanya bencana, perkebunan sawit menjadi salah satu sorotan. Padahal, petani sudah sebaik mungkin melakukan praktek baik pengelolaan kebun.
“Inisiatif ini diharapkan memberikan dampak nyata pada lingkungan, dan bisa mengurangi atau mencegah bencana di masa depan. Kami senang sekali berkolaborasi, diharapkan program ini berjalan sukses,” ungkapnya.
Saat ini, sertifikasi sawit berkelanjutan telah berhasil mendorong keterlibat petani swadaya dalam rantai pasok berkelanjutan, dan setelah hampir 11 tahun berlalu, inisiatif sertifikasi makin bertumbuh dan berkembang, termasuk pada inisiatif petani dalam mitigasi perubahan iklim.
















