FORTASBI – Perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai salah satu penyebab deforestasi di Indonesia. Di mana, perubahan hutan menjadi perkebunan disebut menghilangkan keanekaragaman hayati secara drastis.
Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), terus mendorong anggota untuk mempertankan keanekaragaman hayati di sekitar perkebunan sawit swadaya, caranya adalah mempertahankan dan mejaga nilai konservasi tinggi (NKT) melakukan agroforestry, bahkan melakukan regenerative agriculture.
FORTASBI bersama para mitra telah mendorong 70 perempuan pada upaya dalam pengelolaan pembibitan dengan memanfaatkan bibit untuk peningkatan kesejahteraan perempuan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi yang telah berhasil menghasilkan bibit-bibit unggul yang berkualitas.

Bibit unggul itu, oleh Perkumpulan Petani Berkah Mandah Lestari (APBML), sebuah asosiasi petani sawit swadaya di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi, yang bersertifikasi RSPO dibeli dan disalurkan keberbagai kelompok masyarakat.
Sejak 2019, APBML telah menyalurkan bibit pohon buah-buahan seperti mangga, durian, jambu air, alpukat, dan sirsak. Pembagian bibit pohon ini merupakan upaya menjaga lingkungan untuk keberlanjutan di tengah perkebunan kelapa sawit.
Langkah pembibitan ini juga tengah dilakukan para petani swadaya di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, semakin gencar melakukan upaya pelestarian lingkungan dengan menanam berbagai jenis pohon di sekitar perkebunan mereka.
PPMH dan masyarakat setempat melakukan tengah melakukan upaya penghijauan atau reboisasi dengan melakukan pembibitan 12.000 bibit pohon. Jenis pohon yang ditanam mencakup sengon, jati, trembesi, gaharu, durian, dan Mentawai, yang akan ditaman di pemukiman warga, serta hutan larangan dan area lainnya di sekitar perkebunan sawit swadaya di Air Upas dan Manis Mata.

Di Sumatera Utara, UD Lestari juga melakukan juga melakukan pembibitan turnera subulata, antigonon leptodus, sebagai bagian dari membantu mengurangi penggunaan pestisida dalam praktik perkebunan kelapa sawit.
Di jurnal Nature edisi 24 Mei 2023 melansir, peneliti lintas universitas membuat eksperimen dengan membuat 52 hutan mini di tengah perkebunan kelapa sawit di Sumatera. Luas hutan mini dalam perkebunan kelapa sawit itu 2,8 hektare.
Setelah lima tahun, mereka mempublikasikan hasilnya keberadaan hutan mini membuat keanekaragaman hayati 1,5 kali lipat lebih banyak dibanding perkebunan kelapa sawit tanpa pohon.
Kehadiran hutan mini menjadi magnet bagi keanekaragaman hayati seperti bakteria, serangga, kelelawar, dan burung. Keberadaan hutan mini membuat lingkungan perkebunan kelapa sawit yang keras dan tak ramah keanekaragaman hayati menjadi lingkungan yang layak dihuni pelbagai satwa.

Studi ini sekaligus mengkonfirmasi temuan sebelumnya yang menyebut perkebunan kelapa sawit menghilangkan keanekaragaman hayati. Dengan adanya hutan mini di tengahnya, pelbagai satwa yang dulu bersarang di sini menjadi kembali.
Selain itu, keberadaan pohon dalam perkebunan kelapa sawit tak melahirkan persaingan nutrisi dengan tanaman perkebunan. Hal itu ditujukan oleh produktivitas kelapa sawit di sekitarnya tidak berkurang pada sebelum dan sesudah hutan mini tersebut terbentuk.
















