FORTASBI – Kemitraan global untuk menjadikan minyak sawit berkelanjutan, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), pada Februari 2025 ini, akan menggunakan sistem sertifikasi, perdagangan, dan keterlacakan barunya terbaru yakni PRISMA, yang merupakan singkatan dari Palm Resource Information and Sustainability Management.
Penggunaan PRISMA ini bertujuan untuk meningkatkan perdagangan dan kepatuhan untuk memenuhi peraturan global saat ini, dengan tujuan mewujudkan fungsi inti keterlacakan yang baru.
Dengan rencana tersebut, hampir 100 kelompok petani sawit swadaya yang sudah memiliki sertifikasi RSPO, mendapatkan pelatihan selama tiga hari yakni 14, 15 dan 16 Januari 2025.

Lokasi pelatihan di Cipondoh, Tangerang, Banten, dengan fokus pada penjelasan terkait modul PRISMA di antaranya manajemen entitas, disclosure, stock manajemen serta uji coba audit, sertifikasi, manajemen lisensi, pelaporan perdagangan fisik, perdagangan kredit, serta helpdesk PRISMA.
Selain itu, perwakilan kelompok dan NGO pendamping seperti Forum Petani Kelapa Sawit Swadaya Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), mendapatkan praktik uji coba PRISMA menggunakan akun demo pelatihan.
Dalam pelatihan dibawakan oleh tim smallholders RSPO Indonesia, dengan didampingi oleh pengembang PRISMA yaitu Agridence, diselipkan materi terkait Standar Pekebun Swadaya RSPO 2024.

Dalam pelatihan ini, peserta pelatihan yang mayoritas merupakan petani sawit swadaya di Indonesia, sangat antusias menyambut peluncuran PRISMA yang akan dirilis pada 2 Februari 2025.
Platform IT baru RSPO ini, dirancang untuk menggantikan sistem PalmTrace, yang selama ini digunakan oleh petani sawit swadaya berkelanjutan, salah satunya untuk menjual kredit.
Bagi FORTASBI, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah untuk pengungkapan dan keberlangsungan sertifikasi. Selain itu, memberikan semangat pada para petani untuk tetap berkomitmen dalam sawit berkelanjutan.

















