MerahPutih.com – Di bawah rindangnya deretan pelepah sawit dan sudut-sudut pekarangan warga, denyut keseharian petani perlahan bergeser dari monokultur yang kaku menuju lanskap pangan yang berdaya.
Petani tidak hanya semata menunggu tandan buah segar matang di batang, melainkan merajut siklus sirkular yang menyuburkan tanah sekaligus mengukuhkan ketahanan pangan mandiri dari akar rumput.
Langkah ini dipelopori oleh Sutiyana, Ketua Kelompok Tani Subur, yang berada di Pangkalan Lada, Kotawaringin Barat, Kalimatantan Tengah. Alih-alih membiarkan lahan sawit berjalan sendiri, ia merangkai rantai produksi yang saling mengunci: kelapa sawit berdampingan dengan peternakan ayam, budidaya ikan, hingga hamparan jagung di sela-sela tegakan muda.

Integrasi ini bekerja seperti ekosistem tanpa sisa. Tanaman jagung yang tumbuh di sela tanaman muda juga hasilnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada waktu-waktu tertentu, ayam kampung dibiarkan bebas mencari makan di kebun sawit. Di sisi lain, kotoran dari peternakan terutama dari ayam potong menjadi sumber nutrisi utama bagi kebun.
Dengan populasi sekitar 23 ribu ekor ayam broiler, Sutiyana mampu mengumpulkan tak kurang dari 1.500 karung kotoran ayam yang masing-masing berbobot sekitar 40 kilogram. Timbunan limbah organik ini kemudian diolah menjadi pupuk. Pupuk tersebut disebar kembali ke hamparan sawit dan lahan jagung, memangkas drastis ketergantungan para petani pada pupuk kimia.
Ia mengakui, ada tantangan mengawali model sirkular ini tentu tidak sedikit. Namun, hitungan ekonominya memberi ruang napas yang jauh lebih longgar. Ternak ayam potong hanya membutuhkan siklus sekitar satu setengah bulan hingga masa panen, menghadirkan perputaran uang yang jauh lebih gesit ketimbang ternak sapi yang memakan waktu hingga sepuluh bulan.

Bagi Sutiyana, keuntungan siklus ini melampaui lembaran rupiah. Pembiakan ayam potong maupun ayam kampung di tingkat swadaya memungkinkan warga sekitar memperoleh pasokan lauk segar berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau langsung dari desa mereka sendiri.
Sebuah mata rantai sederhana yang membuktikan bahwa kedaulatan pangan dan kemakmuran kebun bisa tumbuh dari tanah yang sama dan juga berdampak pada produktivitas sawit serta kelembaban tanah yang tidak bergantung 100 persen pada pupuk kimia.















