FORTASBI – Keselamatan kerja dan kesehatan menjadi salah satu poin penting dalam memajukan sawit berkelanjutan. Termasuk di perkebunan sawit swadaya atau yang dikelola petani secara berkelompok.
Para pekerja menjadi salah satu yang wajib terlindungi. Terutama petani atau pekerja dibagian pemupukan atau penyemprotan pengendalian gulma karena sering berhubungan dengan bahan Kimia.
Koperasi Sawit Bangkit, di Desa Sukorejo, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, yang sudah bersertifikasi RSPO, secara terus menerus menguatkan pemahaman dan melakukan peningkatan kapasitas keselamatan kerja.
“Kami punya tanggungjawab, agar para penyemprot tetap terlindungan dan sehat,” katanya
ICS Koperasi Sawit Bangkit Amat Faozi pada FORTASBI.

Ia memaparkan, pelatihan penggunaan Alat Perlindungan Diri (APD), paling tidak harus diberikan minimal satu tahun sekali, agar para pekerja atau petani tetap mengingat dan tidak lalai dalam menggunakan APD saat bekerja.
“Karena ini terkait kesehatan dan keselamatan kerja di perkebunan. Penggunaan APD sesuai standar menjauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Pada tahun ini, Koperasi Sawit Bangkit melatih 35 orang penyemprot dan juga membagikan APD lengkap agar kerja lapangan bisa lancar dan merasa aman serta nyaman saat melakukan penyemprotan.
Ia menegaskan, selain melatih penggunaan APD, dari dana kredit RSPO yang diperoleh koperasi, dialokasikan juga untuk melakukan cek Kesehatan dan leb para penyemprot untuk meangantisipasi tingkat paparan bahan kimia.

“Jika tingkat paparannya melebihi batas, kami akan sementara pindahkan pekerjaan penyemprot ke bagian lain. Selain itu, para penyemprot selalu mendapatkan asupan gizi terutama susu. Dan cek leb adalah upaya reventif,” katanya.
Ia menegaskan, pelatihan penyemprotan dan penggunaan APD sesuai standar, juga membuat petani atau pekerja akan lebih faham area mana saja yang memang tidak diperbolehkan terkena bahan kimia dan tidak asal nyemprot yang bisa dampaknya merusak lingkungan dan tanaman.
“Pelatihan ini juga fokus pada bagaimana petani tidak menggunakan parakuat dan dampaknya di perkebunan sawit swadaya,” ungkapnnya. (*)
















