FORTASBI – Nilai ekspor produk oleokimia Indonesia bisa mencapai 54 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2030. Oleokimia sawit merupakan hasil konversi minyak sawit (CPO, RBDPO, Olein, Stearin, PFAD dan PKO) melalui teknologi proses fisika/kimia/biologi ataupun kombinasinya menjadi produk-produk asam lemak (fatty acid), alkohol lemak (fatty alcohol), metil ester dan gliserol.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) memproyeksikan pertumbuhan produk ini mencapai enam persen setiap tahun. Upaya tersebut bisa didorong jika hilirisasi sawit Indonesia yang harus terus berkembang. Kenaikan nilai ekspor oleokimia ditopang dari permintaan beragam industri dari kosmetik, makanan-minuman hingga farmasi.
Tercatat, pada 2023, ekspor oleokimia sebesar 3,5 miliar dolar AS dengan volume diperkirakan 4,2 juta ton. Pada 2022 nilai ekspor oleokimia mencapai 5,4 miliar dolar AS dengan volume 4,2 juta ton dengan nergara tujuannya China, India, Uni Eropa, dan lain lain.
Pasar ekspor oleokimia yang terbesar adalah ke kawasan Asia Pasifik yakni sebesar 16 miliar dolar AS, dan sisanya ke Uni Eropa dan Amerika, dengan mayoritas produk adalah fatty acid, fatty alcohol, dan sebagainya.
Ia mengatakana, saat ini, ada beberapa produk hilir sawit yang masih diabaikan oleh pelaku industri sawit Indonesia, salah satunya tokoferol dan betakaroten. Padahal pangsa pasarnya masing-masingnya adalah sebesar 1,3 miliar dolar AS dan 4,7 miliar dolar AS. Angka ini yang melebihi nilai ekspor oleokimia 15 HS yang ada selama ini.
Di Indonesia telah diproduksi sekitar 32 jenis produk oleokimia dasar dan oleo-derivatives seperti fatty acid, fatty ester, fatty alcohol, sabun, deterjen dan beberapa jenis surfaktan dan emulsifier (MES, DEA) dan soap noodle.
Perkembangan produk oleokimia sawit di Malaysia sudah lebih maju dengan 120 jenis produk oleokimia dasar dan oleo-derivatives. Penggunaan produk oleokimia terbesar adalah sebagai bahan aktif surfaktan (metil ester sulfonat, alcohol sulfat, fatty amine, gliserol ester, dan lain-lain ) pada berbagai produk dan industri (>70%).
















