FORTASBI – Nasib petani swadaya masih kerap terperangkap dalam lingkaran yang sama: memegang tandan buah segar di kebun sendiri, namun tak berdaya saat berhadapan dengan pasar dan rantai pasok industri raksasa. Bahkan, menuntegrasikan usaha perkelapasawitan masih sangat minim.
Kerap kali, jawaban atas ketidakberdayaan itu dirumuskan lewat berdirinya koperasi-koperasi di tingkat desa. Namun, bagi Jamaludin, Ketua Koperasi Belayan Sejahtera, romantisasi semacam itu justru menyimpan jebakan terselubung. Membiarkan koperasi berdiri sendiri-sendiri tanpa jembatan konsolidasi hanya akan mengulang luka lama, ekonomi rakyat tetap terpecah dalam ribuan entitas kecil yang tak pernah mencapai skala ekonomi (economies of scale) yang cukup untuk bersaing.
Satu koperasi desa barangkali mustahil mengumpulkan modal untuk mendirikan pabrik kelapa sawit (PKS). Namun, bila lima puluh koperasi berpadu, pabrik bukan lagi sekadar angan. Satu koperasi petani mungkin tak sanggup mendanai riset laboratorium benih atau membangun perusahaan teknologi pertanian, tetapi seratus koperasi yang berhimpun memiliki daya tawar dan kekuatan modal yang mengubah peta permainan.

Maka, fase berikutnya dari gerakan tani swadaya bukan lagi sekadar mendirikan koperasi desa , melainkan menghubungkan koperasi-koperasi tersebut. Koperasi tidak boleh berpuas diri hanya dengan memiliki banyak anggota, harus berani memiliki jaringan kawan usaha yang kepemilikannya tetap bermuara pada para petani.
Jamaludin membayangkan sebuah ekosistem hulu-ke-hilir yang mandiri. Misalnya, petani membeli pupuk dari produsen yang sahamnya dimiliki konsorsium koperasi. Tandan buah segar dari kebun diangkut oleh armada logistik milik koperasi. Modal kerja dan peremajaan sawit (replanting) disokong oleh lembaga keuangan milik jaringan koperasi. Lalu, buah tersebut diolah di pabrik pengolahan milik bersama, hingga produk akhirnya dipasarkan melalui jaringan distribusi yang dikuasai petani itu sendiri.
Di titik itulah uang berputar di desa, tidak lagi berhenti di podium. Nilai tambah ekonomi yang selama puluhan tahun mengalir ke kantong pemodal besar, secara tertahap beredar di desa sawit itu beraka, menjadi upah, laba, dividen, dan akumulasi aset bagi masyarakat lokal.
Jamaludin menyadari kelemahan mendasar gerakan koperasi konvensional. Tatkala omzet sudah menembus angka puluhan hingga ratusan miliar rupiah, koperasi tidak bisa lagi dijalankan dengan mentalitas kepanitiaan kampung atau arisan keluarga Roda operasional bisnis harus diserahkan kepada para profesional yang cakap. Justru karena dana dan aset yang dikelola adalah keringat milik ribuan orang banyak, standar tata kelola (good corporate governance) harus jauh lebih ketat dan transparan.
Kemandirian sejati diuji dari keberanian menahan sebagian sisa hasil usaha, memperkuat cadangan kas, serta mendidik anggota untuk terus menambah modal sendiri. Koperasi yang napasnya bersandar pada kucuran utang dan proyek akan rapuh menghadapi badai siklus komoditas.
Di tengah pusaran hilirisasi dan transisi industri sawit nasional, pesan dari Belayan Sejahtera ini menjadi alarm penting kedaulatan petani swadaya hanya akan terwujud bila mereka berani berserikat lintas desa, bersikap profesional, dan berani tumbuh menjadi entitas ekonomi yang besar.
















