Rapat kerja Koperasi Sawit Bangkit.

Koperasi Sawit Bangkit Jaga Kualitas Produksi dan Upah Pekerja Sesuai Aturan

FORTASBI – Awal tahun adalah langkah penting untuk konsolidasi dan menguatkan silaturami antar anggota koperasi. Dengan menggelar pertemuan, kedekatan dan visi serta misi yang sama akan terus terbangun untuk petani swadaya sawit yang berkelanjutan.

Seperti yang dilakukann kelompok petani sawit swadaya yang tergabung Koperasi Sawit Bangkit. Mereka mengelar konsolidasi dan rapat kerja tahun 2024 di Pantai Nada Cinta, Keraya, Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimatan Tengah diakhir pekan, 24-25 Februari 2024.

Koperasi yang memiliki 800 anggota dengan jumlah lahan yang dikelola mencapai 1.600, menatap tahun 2024 penuh dengan optimisme, walapun pada 2023 ada beberapa hal yang belum tercapai atau belum sesuai target.

“Tahun 2024, kami fokus pada peningkatan kualitas hasil panen,” ujar Ketua Koprasi Sawit Bangkit, Agung Mujiono saat berbincang bersama FORTASBI.

Ia memaparkan, keberlanjutan produksi dan lingkungan, menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam rapat kerja tahun 2024. Dengan pilihan raker di desa wisata, anggota yang ikut jadi bisa mengutarakan ide-idenya dan rencana-rencananya untuk perkembangan organisasi dan produksi sawit yang berkelanjutan.

“Sehari hari kami di kebun, tapi dengan raker di pantai, kami bisa merumuskan target-target yang ingin dicapai pada 2024 ini,” ungkapnya.

Agung memaparkan, pada 2024 ini, Koperasi Sawit Bangkit diharapkan bisa mencapai target produksi Tanda Buah Segar (TBS) mencapai 26 ribu ton, walaupun ada beberapa anggota yang lahannya harus melakukan replanting atau peremajaan kebun sawit

“Fokus bukan hanya pada jumlah, tapi kualitas hasil TBS, terutama sesuai yang diinginkan pasar. Kami pun terus mengupayakan keterlibatan perempuan dalam rantai pasok, ” katanya.

Beberapa langkah agar kualitas TBS meningkat, para petani berkomitmen dengan memperhatikan kondisi lingkungan, pengurangan pupuk kimia, pembersihan lahan yang teratur dan lain sebagainya.

“Tentunya kami juga harus memenuhi standar audit, terutama pada tahun 2024 adalah perihal upah pekerja. Kami akan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan pemerintah, agar pekerja juga mendapatkan pendapatan yang cukup dan sejahtera,” katanya.

Keberadaan koperasi petani sawit ini, tegas ia, telah mendorong anggota terus berkembang dan berkelompok untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada.

“Kami terus melakukan evaluasi-evaluasi kerja kerja tahun sebelumnya, sepeti biaya produksi, sarana dan infrastruktur serta lainnya. Termasuk insentif koperasi pada petani, yang diharapkan, insentif jadi dana produktif semisalnya untuk menbangun usaha lain koperasi,” katanya.

Koperasi yang berlokasi di Seruya, Kalimatan Tengah ini, kata Agung, tidak hanya terus memberikan pengetahuan terkait produksi dan lainnya. Tetapi, kata Agung, akan mendorong dan ingin adanya pelatihan manajemen keuangan bagi petani.

“Itu sangat penting, manajemen keuangan, biar tidak tidak hanya memburu keinginan, tapi menghemat juga penting,” ungkapnya.

2024 ini, ungkap Agung, diharapkan petani bisa menghasilkan panen yang berkualitas yang ujungnya adalah harga yang semakin baik karena petani sudah berusaha untuk menghasilkan TBS sesuai aturan.

Koperasi Sawit Bangkit salah satu bagian dari Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) yang merupakan forum yang digagas oleh beberapa NGO dan organisasi petani kelapa sawit di Indonesia, pada tanggal 14 Agustus 2014 di Jambi.

Forum ini sebuah wadah untuk meningkatkan kapasitas petani mandiri kelapa sawit menuju sertifikasi berkelanjutan. Saat ini, FORTASBI memiliki 56 anggota dengan jumlah petani swadaya yang dibina mencapai 14.687 petani, dan jumlah lahan/kebun yang digarap mencapai 32.987 hektar dengan produksi TBS bersertifikat sebesar 1.043.417 ton per tahun, atau setara dengan 208.683 ton CPO per tahun.

| Rekomendasi Untuk Anda