FORTASBI – Forum Petani Kepala Sawit Berkelanjutan (FORTASBI) Indonesia, melakukan rapat konsolidasi anggota di Bogor, Jawa Barat, 5 Desember 2024.
Ada keputusan baru dalam rapat konsolidasi tahun ini. Di mana, Dewan Pembina Yayasan FORTASBI Indonesia, memilih dan menetapkan Dewan Pengurus dan Dewan Pengawas Periode 2024-2027.
Pergantian ini, selain habisnya masa bakti dewan pengurus dan pengawas periode 2022-2024, juga untuk semakin menguatkan kelembagaan Yayasan FORTASBI Indonesia, dalam melayani anggota. Mengingat tantangan pada petani sawit swadaya semakin kompleks.
Dewan Pembina Yayasan FORTASBI Indonesia, memilih dan menetapkan Sutiyana yang sebelumnya Ketua Dewan Pembina, menjadi Ketua Dewan Pengurus periode 2024 – 2027, didampingi Sekretaris Ade Akbar dan Bendahara Margaretha Nurunisa.
Selain itu, Dewan Pembina menetapkan dewan pengawas di antaranya dengan Ketua Surianto didampingi Tripadukan Purba dan Jumadi sebagai anggota.

Yayasan FORTASBI Indonesia mengucapkan terimakasih atas dedikasi dan serta kontribusi Rido Iskandar serta Sabaruddin sebagai Dewan Pengurus dan Dewan Pengawas 2022-2024.
Dalam 10 tahun ini, FORTASBI terus berkembang dan memberikan dampak. Sampai 2024 ini, jumlah anggota layanan mencapai 16.394 petani, yang bergabung dalam 59 Kelompok di 93 Desa, 28 Kabupaten, 9 Provinsi.
Selain itu, FORTASBI melakukan pelatihan kepada 10.793 petani di luar anggota FORTASBI dan siap mengikuti sertifikasi RSPO dan ISPO. Dan Pendapatan anggota dari kredit RSPO telah mencapai Rp 157.286.185.365
FORTASBI juga telah memiliki 14 lokal trainer untuk HCV dan 19 lokal trainer untuk RISS, dan 12 orang master trainer yang siap menyediakan pelatihan di seluruh Indonesia.

Dalam hal perlindungan lingkungan, langkah petani anggota di antaranya telah melindungi Kawasan Konservasi Hutan seluas 108,2 Ha, Kawasan Konservasi Sungai mencapai 121 kilometer, Kawasan Konservasi Gambut seluas 485,24 hektar, Kawasan Konservasi Sempadan Sungai 13.346 hektar.
Keberhasilan selama 10 tahun ini tidak lepas dari dukungan pendamping petani yaitu Perusahaan dan NGO. Para pendamping inilah yang berkerja tanpa lelah di lapangan. Mereka adalah GAR, PT SSMS, Asian Agri, Cargill, Musim Mas, DSN, Lonsum, BGA, Unioleo, Unilever, WWF Indonesia, Yayasan Setara Jambi, WRI, GIZ, Inobu, SNV, Solidaridad dan Javleg.
“Kedepan kita perlu membuat terobosan-terobosan, agar FORTASBI maupun petani sawit dapat meningkat kesejahteraannya, meningkat kepatuhan-kepatuhan terhadap regulasi nasional, maupun internasional seperti EUDR,” kata Sutiyana.
Selain itu, dalam tiga tahun mendatang, FORTASBI harus memulai langkah untuk hilirisasi produk berkelanjutan dan mendorong kemudahan akses sarana prasarana dari pemerintah.
Di mana, FORTASBI perlu mendampingi kelompok atau anggota untuk dapat mengakses seluruh peluang program terutama yang dikeluarkan Badan Pengelola Dana Perkenunan (BPDP), yang dikhususkan bagi perkebunan kelapa sawit.
“Mari maju lagi. Kita ramai-ramai akses dukungan pemerintah, melalui Badan Perwakilan Daerah (BPD) di masing-masing wilayah,” ungkapnya.
















