FORTASBI – Keberadaan hama akan sangat menggangu produktivitas perkebunan petani sawit swadaya. Berbagai langkah untuk mengendalikan hama terus dilakukan oleh petani tanpa merusak ekosistem terutama dengan mengurangi pupuk kimia.
Salah satu langkah yang diambil adalah mempertahankan predator alami, yakni burung hantu di perkebunan sawit, untuk keperluan mengendalikan tikus yang berkembang biak di perkebunan kelapa sawit.
Burung hantu sebagai predator alami, sangat bisa diandalkan dalam menangkap tikus dibandingkan dengan menggunakan pupuk kimia. Satu burung hantu mampu menangkap sampa 6 ekor tikus.
“Kami memilih membangun rumah pengendalian organisme pengganggu tanaman ini karena lebih murah dan mengurangi pupuk kimia. Kandang ini bakal dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Staf Asosiasi Petani Kelapa Sawit Swadaya Mandiri Devi Kurniasari.
Asosiasi yang berada di Desa Sungai Buluh Kecamatan Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, sebelumnya membangun 4 kendang di lahan milik kelompok tani. Tahun ini, membangun kembali 6 kendang di berapa titik lahan kelompok tani setelah dirasakan manfaatnya.
“Kalau bisa mengendalikan hama dengan predator alami, tersebut pastinya akan mendapatkan manfaat yang sangat besar. Dengan menjaga populasi burung hantu, hama tikus juga bisa dikendalikan,” katanya.

Ia mengatakan, kandang yang dibangun, bisa memuat dua burung hantu untuk bersarang dengan daya tahan kandang bisa mencapai 3 tahun.
“Untuk pengendalian hama juga selain predator alami, setiap tahun asosiasi membagikan turnera subulata atau bunga pukul delapan, untuk mengendalikan ulat api,” ungkapnya.
Devi mengatakan, dengan memaksimalkan predator alami dan bunga pukul delapan, produktivitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan petani bisa terus meningkat, karena hama yang menyerang pohon berkurang.
“Petani sawit swadaya terus melakukan upaya keberlanjutan sesuai dengan Prinsip dan Kriteria RSPO (P&C), yang sudah jadi ketentuan. Karena ini untuk kebaikan petani dan lingkungan,” katanya.
















