Tumpangsari Coklat di Kebun Sawit

Jemput Asa di Celah Gawangan Mati Dengan Nanas dan Kakao: Inovasi Petani Sawit Rimbo Ulu

FORTASBI – Kebun sawit saat ini tidak melulu soal hamparan pohon monokultur dan rutinitas memanen Tandan Buah Segar (TBS). Di tangan Perkumpulan Petani Sawit Rimbo Ulu (PPSRU) yang berasal dari Kabupaten Tebo, lorong-lorong sepi di antara tegakan sawit kini disulap menjadi sumber penghidupan baru yang menjanjikan.

Dengan anggota sebanyak 1.421 petani swadaya dan luas area mencapai 2.510,70 hektare, PPSRU telah membuktikan komitmen mereka terhadap lingkungan dengan meraih sertifikasi bergengsi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) pada pertengahan tahun 2026.

Namun, para petani ini menyadari bahwa inovasi tak boleh berhenti di selembar sertifikat. Berangkat dari rasa penasaran dan keinginan kuat untuk memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi komunitasnya, mereka mencari terobosan baru di luar penjualan sawit.

 

Tumpangsari coklat di kebun sawit.
Tumpangsari coklat di kebun sawit.

 

Langkah berani yang mereka ambil adalah melakukan uji coba sistem tumpangsari atau penanaman ganda dengan pohon buah seperti nanas, kakao (cokelat), dan kopi. Secara agronomis, sistem tumpangsari di lahan sawit memberikan segudang manfaat walapun saat ini PPSRU masih melakukan ujicoba.

Praktik ini diyakni mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, menjaga kelembapan tanah, serta mencegah erosi unsur hara. Lebih dari itu, tumpangsari bertindak sebagai jaring pengaman ekonomi yang kokoh bagi para petani kala harga komoditas utama sedang berfluktuasi.

Di kebun PPSRU, tumpangsari ini ditanam pada area gawangan mati, yaitu lajur di antara barisan pohon sawit yang tidak dijadikan jalur panen.

“Untuk tumpangsari ini, kami coba di gawangan mati,. Yang tadinya lahan itu hanya buat menumpuk pelepah, karena sekarang pelepahnya dicacah, jadi gawangannya bisa digunakan,” ” ungkap Sulamto, Group Manajer PPSRU.

 

Tumpangsari nanas di Kebun Sawit
Tumpangsari nanas di Kebun Sawit

 

Hasil dari uji coba yang berpadu dengan kerja keras ini mulai terlihat nyata. Tanaman nanas yang mereka budidayakan kini sudah bisa dipanen masa panen. Tak main-main, dari celah lahan yang dulu diabaikan, petani diprediksi mampu meraup tambahan pendapatan hingga Rp 2 juta.

Sementara itu, penanaman kakao dan kopi digaharapkan memberikan fungsi ganda, tak hanya bernilai ekonomis tetapi juga difungsikan sebagai pohon peneduh yang memperbaiki iklim mikro di dalam kebun. Inovasi mereka semakin lengkap dengan konsistensi dalam praktik budidaya ramah lingkungan.

 

Tumpangsari coklat di Kebun Sawit
Tumpangsari coklat di Kebun Sawit

 

Petani PPSRU secara mandiri mengembangkan dan menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan ternak (sapi, kambing, dan ayam), yang dicampur dengan sampah pasar, sisa buah-buahan, air cucian beras, cacahan pelepah sawit, hingga pupuk cair biochar. Penggunaan pupuk organik racikan sendiri ini sukses menjaga produksi kebun tetap stabil.

Kisah kemandirian dan keberhasilan inovasi dari Tebo ini pun menggema cukup jauh, hingga membuat sebuah kelompok tani dari Kalimantan Barat rela berkunjung langsung untuk melihat dari dekat perkembangan luar biasa yang ditorehkan oleh petani Rimbo Ulu serta merasakan nanas yang dihasilkan di kebun sawit.

 

| Rekomendasi Untuk Anda

Partner Kami

Partner Kami

Get Connected

©Yayasan FORTASBI Indonesia