FORTASBI – Hembusan angin laut meberikan semangat pada para petani sawit yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Sawit Ketapang (PPSK), yang berlokasi di Air Upas, Ketapang Kalimantan Barat.
Di hamparan pasir basah itu, jejak-jejak kaki petani berjejalan, menyatu dengan lumpur dan harapan baru menciptakan momen, di mana kepedulian terhadap lingkungan mewujud dalam bentuk kehidupan baru.
Ketapang selama ini dikenal luas sebagai salah satu urat nadi perkebunan kelapa sawit. Seringkali, narasi yang terbangun antara perkebunan dan kelestarian alam terdengar seperti dua sisi yang saling berbenturan. Namun, paradigma itu perlahan digugurkan oleh napas sawit berkelanjutan yang dilakukan PPSK.

Keberadaan pekebun, kini tidak terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Petani sawit berkelanjutan, menjadi bagian dari ekosistem yang saling menghidupi dan memberdayakan. Hal ini, terlihat jelas ketika PPSK secara resmi turun tangan memperkuat program sosialnya dengan menyerahkan bantuan 1.000 bibit pohon mangrove.
Ribuan bibit ini ditanam memanjang di kawasan pesisir Ketapang, menjadi simbol nyata dari kepedulian lembaga dalam menjaga ekosistem lingkungan. Sebatang bibit mangrove lebih dari sekadar tanaman tapi itu adalah bagaian dari keberlanjutan bagi anak cucu. Dari kredit RSPO, ini maka petani bisa berkontribusi nyata pada perlindungan ekosistem.
Penanaman ini adalah sebuah interaksi simbolis yang menyatukan manusia, daratan perkebunan, dan lautan. Mangrove-mangrove ini dipersiapkan untuk memikul tugas menjadi benteng alami yang kokoh untuk mencegah terjadinya abrasi pantai dan mempertahankan ekosistem.
Rimbunnya mangrove kelak akan berfungsi sebagai habitat perlindungan yang aman bagi berbagai ekosistem laut di perairan Ketapang. Dampak dari inisiatif ini tidak berhenti pada sekadar kelestarian alam semata. Ada denyut ekonomi yang coba dibangkitkan, selaras dengan tujuan utama keberlanjutan.

Dengan pulih dan terjaganya ekosistem mangrove, perlahan tapi pasti, potensi perikanan dan kelautan di pesisir Ketapang dapat meningkat. Kepiting, udang, dan ikan-ikan kecil akan kembali bersarang, yang pada gilirannya diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi pemberdayaan ekonomi dan membantu menyejahterakan para nelayan serta warga sekitar di masa mendatang.
Ketua PPSK Sudarto meyakini, jika sinergi positif antara petani sawit dan berbagai lembaga, pemerintah daerah, serta organisasi lainnya, jika terjalin dengan erat, maka kesadaran untuk menjaga dan merawat lingkungan pesisir Ketapang kini bukan lagi sekadar program donasi sesaat.
“Ini merupakan melainkan sebuah tanggung jawab bersama. Sebuah pembuktian bahwa rimbunnya kelapa sawit, bisa berdampingan harmonis dengan hijaunya mangrove. Kami terus beru upaya untuk tegis memegang prinsif keberlanjutan. Langkah kecil ini, semoga meyakikan jika petani sawit juga secara maksimal ingin berperan dalam perlindungan ekosistem darat dan laut,” katanya.

















