FORTASBI – Petani Sawit Swadaya mempunyai peluang yang besar untuk melakukan mitigasi perubahan iklim. Megingat, ada potensi pengeloaan karbon di perkebunan sawit. Di kebun sawit swadaya, karbon disimpan dan diserap di batang, pelepah, akar, dan buah pohon kelapa sawit.
Praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan sangat menentukan jumlah karbon yang tersimpan dan bisa menjadi cadangan karbon alami yang besar. Praktik yang baik tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengurangi emisi dan memaksimalkan penyerapan karbon.
Paling tidak, ketika petani menerapkan praktik berkelanjutan seperti tidak membakar lahan, konservasi tanah dengan pupuk organic atau penguran pupuk kimia, petani berpotensi mendapatkan manfaat yang lebih besar termasuk kemungkinan pengakuan berupa kredit karbon atau akses ke dana karbon dan jasa lingkungan.

Peneliti CIFOR – ICRAF Indonesia, Subekti Rahayu menilai kebun petani sawit swadaya, tidak hanya monokultur. Ada juga tanaman lain seperti pinang, aren, buah buahan, dan lainnya, sebagai diversifikasi produk, yang bisa meningkatkan cadangan karbon dari kebun petani sawit swadaya.
“Di kebun sawit ada karbon tapi tidak terlihat, ibaratnya mahluk halus. Setiap tumbuhan termasuk tanaman sawit, menyimpan karbon mulai daun, batang, akar, buah. Yang berasal dari karbon dioksida di udara yang diserap melalui fotosintesisi yang menghasilkan karbonhidrat bentuk glukosa yang disimpan dalam tubuh tanaman dan oksigen yang dilepaskan ke udara untuk bernapas,” katanya.
Ia mengatakan, langkah yang paling bisa dipilih dalam pengelolaan karbon atau mitigasi perubahan iklim di perkebunan sawit swadaya adalah dengan menerapkan regenerative agrikultur atau pertanian regeneratif dan menerapkan praktik perkebunan baik.

Karena menurut Yayuk, panggilan akrab Subekti Rahayu, dengan pertanian renegeratif, usaha tani akan berkelanjutan. Dalam jangka panjang produktivitasnya bisa lebih meningkatkan atau lebih baik.
“Dengan menerapkan praktik yang baik, kesuburan tanah akan meningkat dan mikro organisme dalam tanah akan lebih aktif untuk menguraikan atau melapukan serasah-serarah. Manfaat lingkungan ini yang harus dikejar petani sawit swadaya,” ungkapnya.

Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan (FORTASBI) telah melakukan pelatihan bagaimana petani awit swadaya memahami dan bahkan menghitung cadangan karbon di kebun mereka secara sederhana. Pengukuran ini untuk memvalidasi dan mengklaim kontribusi petani sawit dalam mitigasi perubahan iklim.
FORTASBI yakin, dengan menjadi bagian dari rantai nilai berkelanjutan dan mampu membuktikan kontribusi petani sawit swadaya dalam penyerapan karbon, petani sawit swadaya tidak hanya mengamankan mata pencahariandi pasar global yang semakin menuntut produk ramah lingkungan, tetapi juga mengambil peran aktif dan krusial sebagai penjaga iklim.
















