Pelatihan pertanian regeneratif

FORTASBI Fasilitasi Petani Berbagi Cerita Pertanian Regeneratif di Jambi

FORTASBI – Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) atau Yayasan FORTASBI Indonesia, mengelar sosialisasi makalah pembelajaran pertanian regeneratif atau RA, di Aula Kantor Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, 29 April 2024.

Dalam kegiatan ini, 4 orang perwakilan petani yang telah mempraktekkan pertanian regeneratif, berbagi perspektif dan praktek lapangan. Pelatihan ini, dihadiri 36 Peserta yang terdiri 7 perempuan dan 29 laki-laki.

Petani seperti Netti, Sumino, Kuderi, dan Sutrisno yang telah melakukan praktek pertanian regeneratif penggunaan tankos, kohe, tumpang sari, serta terbas kebun, berbagi tips dan cara serta dampak

“Empat petani tersebut menjadi narasumber yang akan menyampaikan pengalamannya terkait praktek RA yang telah dilakukan,”ujar

Petani yang telah mempraktekan pertanian regeneratif Netty, memaparkan, dirinya menggunakan pupuk kandang kotoran sapi dan urine sapi.

“Saya juga menanam sayuran di kebun, dan juga menanam pohon gaharu, kata orang dikebun sawit tidak bisa ditanam tanaman lain, tetapi asal bagus pengelolaannya ternyata bisa ditanam tanaman lain, asalkan menggunakan pupuk organik agar tanahnya subur, hasil produksi sawitnya tetap bagus,” katannya.

Petani Sutrisno menceritakan, mempraktekan RA telah meningkatkan produksi dan hasil lebih stabil. Awalnya, Sutrisno lebih memilih menggunakan pupuk kimia. Tetapi setelah bergabung di APBML, dirinya mendapatkan pembelajaran pertanian berkelanjutan.

“Saya melihat petani lain ada menggunakan pupuk Tankos dikebunnya, pada tahun 2018 itu lah saya mencoba menggunakan pupuk tankos sampai sekarang, manfaatnya saya melihat dari fisik pokok sawit, terlihat daunnya hijau,pokoknya besar,” katanya.

Ia mengatakan, dengan menggunakan pupuk tankos, dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia, akan tetapi untuk produksinya tetap bagus bahkan lebih meningkat dari pada tahun tahun sebelumnya/

“Pupuk tankos saya terapkan satu tahun sekali, dan juga saya mendapatkan support bantuan dari APBML karena saya menggunakan praktek RA ini,” katanya.

Perwakilan dari Setara Jambi menegaskan, praktek pertanian regenaratif sebenarnya telah lama dilakukan oleh petani, akan tetapi praktek tersebut kurang tepat.

“Maka dari itu kami melakukan pelatihan pertanian regenerative kepada petani APBML dan FPS-MRM, dengan menghadirkan trainer dari malaysia,” katanya.

Ia memaparkan, pihaknya juga mendukung membuat demplot RA di APBML dan FPS-MRM, serta membuat dokumen kajian pupuk organik.

“Untuk APBML dan FPS-MRM kami membuat rencana kerja RA di masing-masing forum petani tersebut,” katanya.

Abu Amar menegaskan, dalam penerapan RA, kedalanya masih banyak petani yang berpandangan jika pemupukan hanya dengan pupuk kimia. Padahal pupuk tidak hanya kimia, pupuk organik bisa jadi pilihan utama bagi petani.

“Dan pupuk organik banyak juga dijumpai di sekitar petani, terkadang pupuk organik tersebut tidak digunakan oleh petani, seperti kotoran hewan, dan tankos. Praktek pertanian regeneratif ini butuh kolaborasi, baik itu dari kelompok petani dan berbagai pihak,” katanya.

Dalam kegiatan ini, FORTASBI menggandeng dan didukung Setara Jambi, GIZ, Forum Sustainable Palm Oil, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kelompok petani sawit swadaya APBML, dan FPS-MRM.

| Rekomendasi Untuk Anda