FORTASBI – Bertahun-tahun, sektor perkebunan kelapa sawit swadaya identik dengan generasi tua. Banyak anak muda di desa memilih merantau ke kota karena menganggap bekerja di kebun sawit itu kotor, melelahkan, dan kurang menjanjikan masa depan yang modern.
Namun, narasi tersebut perlahan patah. Melalui berbagai kisah inspiratif, bermunculan dari kebun sawit, generasi muda tampil sebagai motor penggerak transformasi menuju perkebunan sawit yang berkelanjutan, modern, dan ramah lingkungan.

Ada banyak contoh di kelembagaan petani sawit swadaya pemuda mengambil peran, Seperti Yohanes Regen yang menjadi ICS di KUD Tani Subur, Kotawaringin Barat, Kalimatan Tengah. Choirul Fuadi adalah Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkah Mulya Jaya di Desa Mekar Mulya, Kecamatan Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.
Ada Amat Faozi tercatat terkait dengan Koperasi Sawit Bangkit di Desa Sukorejo, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Ade Fachrizal di Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dan tidak ketinggalan ada sosok perempuan muda, Devi Kurniasari Staf Asosiasi Petani Kelapa Sawit Swadaya Mandiri, di Desa Sungai Buluh Kecamatan Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Kontribusi pemuda dan pemudi di kebun sawit itu, tidak lagi sekadar melanjutkan warisan orang tua dengan cara lama, melainkan membawa berbagai inovasi dan penguatan kelembagaan.
Anak muda bukan hanya menguatkan kelembagaan, mereka terjun dalam memetakan poligon lahan kebun untuk memastikan kebun tidak berada di kawasan hutan lindung, memperkenalkan pembukuan digital sederhana dan mereka juga mengedukasi petani tentang pemupukan, pengendalian gulma serta manajemen pengelolaan kebun sesuai standar sertifikasi keberlanjutan (RSPO dan ISPO).

Para pemuda di tingkat tapak juga aktif dalam tim pemantau lingkungan desa. Jika dulu petani swadaya hanya bekerja dalam diam di pelosok daerah, kini pemuda-pemudi dari kebun sawit mampu berbicara di panggung nasional hingga internasional.
Mereka memanfaatkan media sosial untuk menceritakan praktik baik dari kebun mereka sendiri, sekaligus mewakili suara petani swadaya Indonesia dalam forum-forum keberlanjutan global. Mereka membuktikan bahwa produk sawit dari petani kecil di Indonesia dikelola secara beretika, legal, dan bertanggung jawab.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa regenerasi petani bukanlah mimpi di siang bolong. Ketika diberikan ruang, pelatihan, dan kepercayaan di dalam kelembagaan petani, anak muda mampu mengubah profesi petani sawit menjadi profesi yang membanggakan.















