WhatsApp Image 2025-06-23 at 10.17.39

Kontribusi Petani Sawit Swadaya Dalam Ketahanan Pangan

FORTASBI – Perkebunan sawit saat ini sudah menjadi pendorong pembangunan jalan, listrik, dan fasilitas umum di daerah terpencil. Bukan hanya itu, petani sawit swadaya dengan keterbatasan yang ada mempaktikan perkebunan regeneratif.

Perkebunan regenetif ini juga menunjang ketahanan pangan di wilayah perkebunan. Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, terus mendorong petani selain meningkatkan produktivitasnya, juga bisa melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Misalnya, KUD Tani Subur di Desa Pangkalan Tiga Kecamatan Pangkalan Lada Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, menerapkan pola tamanan tumpang sari dengan jagung pada lahan peremajaan sawit. Paling tidak jumlah panen jagung sudah mencapai 250 ton per tahun.

Selain itu, juga memiliki peternakan ayam pedaging serta perikanan yang juga sebelumnya mengembangkan peternakan sapi.

Di mana, bukan hanya hasilnya di jual pada masyarakat sekitar juga para buyer, namun sisa-sisa kotoran dijadikan bahan pupuk organik untuk perkebunan sawit.

KUD Tani Subur sudah menghasilkan sekitar ayam potong sebesar 140 ton dan ikan menjadi wahana pemancingan bagi warga.

Bukan hanya Tani Subur, BUMDes Karya Mandala, yang juga berada di Kotawaringin Barat, juga mendorong para petani sawit yang sudah bersertifikat beternak sapi. Ternak sapi karena pasarnya masih luas terutama menjelang Idul Adha.

Pengembangan perkebunan dan ketahanan pangan, menjadi salah satu cara agar petani juga bisa memenuhi sandang pangannya sendiri. Petani sawit swadaya sebagai punggung industri kelapa sawit di Indonesia, juga bisa berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.

Selain itu, dengan meningkatnya produktivitas perkebunan maka keberadaan minyak goreng yang menjadi bahan utama bagi jutaan rumah tangga, dengan pasokan minyak sawit yang stabil, bisa memastikan ketersediaan minyak goreng dengan harga yang terjangkau.

Selain menyediakan bahan baku pangan, keberadaan petani sawit swadaya juga memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan terhadap ketahanan pangan bagi jutaan keluarga di pedesaan, perkebunan sawit.

Pendapatan dari sawit memungkinkan petani untuk berinvestasi pada usaha lain di lahan atau di luar lahan, seperti peternakan kecil, kebun sayur, atau warung kelontong, yang turut memperkuat ekonomi lokal dan ketersediaan pangan, seperti lahirnya toko toko bahan pokok yang dihadirkan petani sawit swadaya untuk memenuhi kebutuhan anggota dan warga sekitar perkebunan.

Kehadiran petani sawit swadaya bersertifikas, bukan hanya produsen tandan buah segar (TBS), tetapi penjaga ketersediaan pangan, penopang ekonomi keluarga, dan agen pembangunan di berbagai daerah terpencil.

Hal sama juga tengah dilakukan oleh berbagai petani sawit swadaya terutama yang mendapatkan dana peremajaan sawit (PSR) Badan Pengelola Dana Perkebunan, melakukan tumpang sari dengan jagung atau menaman padi gogo dilahan yang memungkinkan sebagai cara untuk meningkatkan ketahanan pangan.

| Rekomendasi Untuk Anda