Petani Sawit

Delegasi Uni Eropa Lihat Kerja Petani KUD Tri Daya Dalam Mengelola Kebun Sawit

FORTASBI – Dalam tiga hari, 27 – 29 Februari, perwakilan Uni Eropa mendatangi langsung KUD Tri Daya Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, untuk melihat bagaimana petani sawit di kawasan tersebut mengelola perkebunan sawit, lahan serta lingkungan.

Uni Eropa saat ini, telah mengeluarkan peraturan untuk menahan dampak negatif pasar Uni Eropa terhadap deforestasi global dan degradasi hutan di seluruh dunia atau EUDR. Salah satu topik adalah komoditas sawit yang merupakan menjadi komoditas ekspor utama Indonesia.

Perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini sudah mencapai 16,38 juta hektare. Sebanyak 41 persen atau 6,72 juta hektare merupakan sawit swadaya atau yang dikelola para petani sawit swadaya.

Manajer Sertifikasi KUD Tri Daya Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah Rohmat memaparkan, kedatangan perwakilan dari Uni Eropa, tim pendamping dan PT Surveyor Indonesia, berkaitan tentang bagaimana mereka mengetahui ketelusuran atau asal usul buah yang dihasilkan KUD Tri Daya.

“Petani yang masuk kelompok KUD Tridaya, sudah memiliki mekanisme yang baik, salah satunya dalam mengambil bibit. Kami selalu berkooodinasi dengan balai benih dan memilih bibit yang sudah bersertifikat,” katanya.

Petani sawit swadaya, kata Rohmat, sudah sangat paham untuk meningkatkan produktifitas, mempertahankan lingkungan dan tanah yang baik, harus dimulai dengan pemilihan dari bibit sawit yang tersertifikat.

Paling tidak, dengan bibit berkualitas rendemen kelapa sawit, yaitu perbandingan jumlah antara minyak kelapa sawit kasar atau CPO yang diproduksi dalam setiap kilogram Tandan Buah Segar (TBS) semakin baik.

“Bahkan, setiap tahun, lahan sawit milik petani dilakukan uji lab, sebagai bagian dari audit. Mungkin karena ketidaktahuan mereka (Uni Eropa) jadi persepsinya beda atas kondisi pengelolaan kebun sawit petani,” ungkapnya pada FORTASBI.

Ia menegaskan, petani yang tergabung di KUD Tridaya, yang berjumlah 210 anggota dengan luas lahan garapan 710 hektar, panen dengan hasil panen mencapai 15.800 ton, juga terus melakukan berbagai upaya agar kondisi lingkungan tidak rusak.

Langkah yang diambil petani, lanjut ia, walaupun saat ini masih menggunakan pupuk kimia, tetapi juga menggunakan dengan berbagai pupuk organik baik yang dihasilkan petani maupun yang dipasok oleh pabrik.

Bahkan, lanjut ia, petani juga sudah mulai sangat paham atas kondisi air dengan menanam berbagai tamana buah dan kayu di sepanjang sempadan sungai.

“Ini langkah bagian dari kami untuk lingkungan. Yang jadi catatan delegasi Uni Eropa adalah pengolahan sampah plastik di perkebunan terutama yang dekat jalan raya. Tapi kami, nantinya akan ada tim untuk pembersihan dan tempat untuk pembuangan sampah plastik,” katanya.

Delegasi Uni Eropa, kata ia, memberikan apresiasi pada KUD Tridaya karena proses dalam pengelolaan kebun sawit dinilai sesuai standar, dari mulai pembibitan, penanaman, pengelolaan lingkungan bahkan terhadap sumber daya manusia terutama upah dan keselamatan kerja.

Dalam tinjauan tersebut, delegasi Uni Eropa, melihat kebun anggota KUD Tri Daya dan Pabri PT PT Swadaya Sapta Putra (SSP) serta melakukan dialog dengan para petani.

“Dalam dialog itu ditekankan selain soal penelusuran alias asal usulnya, juga soal administrasi pencatatan yang harus diperkuat, agar terdokumentasi dengan baik. Tentunya, kami akan terus diperbaiki,” ungkapnya.

| Rekomendasi Untuk Anda