Pelatihan yang digelar FORTASBI dan berbagai mitra.

FORTASBI Telah Latih 3.284 Petani Untuk Peningkatkan Kesadaran Mengenai Sawit Berkelanjutan

FORTASBI – Dalam setahun terakhir, Yayasan Forum Petani Sawit Berkelanjutan Indonesia atau FORTASBI, telah melakukan berbagai upaya peningkatakan kapasitas petani sawit swadaya untuk menumbuhkan dan menguatkan komitmen berkelanjutan.

Paling tidak, FORTASBI dan anggota, telah membantu dan melatih 3.284 petani sawit swadaya untuk meningkatkan kesadaran mengenai sawit berkelanjutan di berbagai provinsi di Indonesia.

Kepala Sekretariat Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) Rukaiyah Rafik menegaskan, salah satu komitmen FORTASBI, dan anggotanya adalah percepatan implementasi standar sawit berkelanjutan melalui sertifikasi RSPO, ISPO dan percepatan E-STDB, sebagai salah satu pemenuhan persyaratan sertifikasi RSPO dan ISPO.

“Komitmen ini ditunjukkan FORTASBI dan anggotanya melalui dukungan penyediaan pelatihan untuk petani sawit swadaya,” ujarnya.

Ia memaparkan, berbagai pelatihan tersebut di antaranya, di Medan FORTASBI berkerjasama dengan KUD Lestari yang berhasil melatih 1.583 petani, di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Berau dan Kabupaten Kutai Timur, FORTASBI berkerja sama dengan Koperasi Jasa Mutiara Kongbeng dan Asosiasi Sawit Rakyat Mandiri melatih 901 petani.

Lalu, di Kalimantan Barat, tepatnya di Sekadau dan Landak, FORTASBI bersama APKS-KK berhasil melatih 600 petani swadaya. Dan di Jambi, FORTASBI bersama dengan Yayasan Setara Jambi berhasil melatih 200 petani swadaya di Kabupaten Tebo, Jambi.

“Pelatihan yang diberikan tidak hanya seputar sertifikasi dan standar sawit berkelanjutan, tapi juga pelatihan mengenai budidaya kelapa sawit yang baik, pengelolaan kelembagaan dan bahkan menyediakan pelatihan mengenai pertanian regenerative (regenerative agriculture),” katanya.

Rukaiyah menegaskan, pelaksanaan kegiatan ini tidak hanya berkolaborasi dengan anggota tapi juga dengan perusahaan, lembaga swadaya masyarakat (non governmental organization) dan pemerintah kabupaten, seperti PT HDL di Landak, Unilever dan SNV di Sumatera Utara, USAID Segar di Kalimantan Timur dan Dinas Kabupaten Sekadau.

Ia mengakui, jika jumlah yang saat ini dilatih oleh FORTASBI, masih sangat sedikit jika dibandingkan jumlah petani swadaya yang mencapai 2,5 juta petani di Indonesia.

“Meskipun kecil, diharapkan dampak yang akan dihasilkan dari pelatihan ini cukup besar. FORTASBI membayangkan, bagaimana 3.284 petani yang mendapatkan pelatihan ini, dapat juga menyebarkan ilmu yang mereka dapatkan kepada petani swadaya lainnya,” katanya.

Dalam pelatihan ini, FORTASBI menghadirkan pemateri, trainer dan para petani, untuk saling memberikan masukan dan penguatan dalam isu keberlanjutan, praktek baik perkebunan sawit, serta pemberian materi lainnya, seperti menghitung hasil panen, meningkatkan kualitas, praktek pengelolaan tanah serta materi lainnya.

“Kami memberikan berbagai modul praktek yang memungkinkan mudah difahami dan dipelajari para petani. Sehingga, setelah pelatihan petani sawit swadaya bisa mempraktekan di lapangan,” katanya.

Berbagai modul pelatihan yang diberikan, tegas Rukaiyah, dengan tujuan memberikan dampak langsung pada petani. Sehingga, petani sawit swadaya bisa mudah berbagai ilmu dan praktek praktek baik lainnya, pada petani sawit swadaya di luar kelompoknya.

“Tentunya, FORTASBI berharap keberlanjutan program bisa diadopsi di berbagai daerah dengan cangkupan yang lebih luas lagi. Sehingga, memberikan dampak yang signifikan lagi bagi jutaan petani sawit swadaya,” katanya.

Rukaiyah berharap, berbagai pihak masih dapat mendukung kegiatan atau pelatihan, yang langsung menyasar para petani sawit swadaya. Peningkatan kapasitas menjadi kunci agar petani sawit swadaya bisa lebih sejahtera.

“Tentunya dengan menerapkan standar keberlanjutan, maka petani sawit swadaya bisa terus berkibar dan berdampak, atau berkontribusi pada masyarakat sekitar perkebunan dan lingkungan,” ungkapnya.

Dalam lima tahun terakhir atau periode 2018 – 2022, FORTASBI telah melatih ribuan petani sawit swadaya dengan jumlah sekitar 7.839 petani mendapatkan pelatihan atau sosialisasi standar RSPO, sosialisasi standar ISPO pada 412 petani, good agriculture practices pada 5248 petani, group manajer training pada 1259 petani, dan training of trainer pada 1326 petani.

| Rekomendasi Untuk Anda