FORTASBI – Cuaca panas tidak menyurutkan semangat FORTASBI untuk mengunjungi kaki gunung Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, yang merupakan taman nasional yang terletak di Sumatera, Indonesia.
Taman Nasional Bukit Tiga Puluh ini, terletak pada lintas provinsi dan kabupaten, yaitu di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir di Provinsi Riau, dan Kabupaten Tebo dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi.
Tim FORTASBI mengunjungi kaki gunung Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Kabupaten Tanjung Jabung Barat di Provinsi Jambi, untuk melihat bagaimana petani sawit swadaya dan petani hutan saling mendukung untuk berkolaborasi dalam pemanfaatan ruang lahan atau lingkungan.

Tim FORTASBI mengunjungi Air Terjun Mahau Lestari yang masih terjaga dan menjadi sumber kehidupan para petani hutan. Di kawasan itu, petani hutan menaman berbagai jenis tamanan hutan dan tamanan bumbu, yang juga menjadi salah satu kawasan perhutanan sosial.
Kelompok Mahau Lestari di sepanjang jalur air terjun, telah menaman tanaman buah seperti petai, alpukat dan jeruk. Selain itu juga tamanan kopi serta cabai, yang tumbuh subur di kawasan ini.
Kelompok ini juga tengah merancang, agar kebadaan air terjun berdampak pada tambahan ekonomi petani, dengan membangun ecowisata.
Setelah melihat kondisi hulu yang memberikan kehidupan, Tim FORTASBI bergerak dan berdialog dengan kelompok perempuan pembibitan Al-Ikhlas.
Kelompok ini, yang nantinya didorong untuk menyediakan bibit bibit berkualitas selain sawit, untuk dibeli oleh berbagai kelompok petani sawit untuk pertanian regeneratif dan berbagai penghijaun terutama di hulu bukit 30 dan sepadan sungai.

Tim FORTASBI juga begerak ke desa Lubuk Lawas, Lokasi Lubuk Larangan, yaitu lokasi penghijuan sungai, yang dikelola oleh para pemuda setempat. Setelah itu, juga bergerak ke desa Tanjung Paku Kecamatan Merlung, untuk melihat potensi yang serupa dalam hal pengelolaan sepadan sungai.
Hal yang sama juga dilakukan Tim FORTASBI dengan mengunjungi Desa Dusun Mudo, yang sudah dua kali menginisiasi Lubuk Larangan. Tetapi, masyarakat di sana masih sangat optimis agar program dalam pengelolaan lingkungan di kawasan desa bisa berjalan.
Selain di tingkat petani, hutan dan masyarakat sepanjang hulu dan hilir sungai, FORTASBI melakukan dialog dengan anggotanya terkait rencana-rencana dan langkah langkah yang tengah dan akan dibangun warga untuk mempertahankan kelestarian dan keanaragaman hayati agar bisa saling berkolaborasi dan menguatkan.
Berbagai rencana tengah disusun dan dimatangkan, dimana para petani kelapa sawit mendukung rencana-rencana bahkan berkomitmen untuk mendukung pembelian bibit dari kelompok- kelompok perempuan.
Bahkan, melakukan upaya dengan menggandeng sekolah Aliyah setingkat SMA, agar siswanya melakukan pembibitan yang hasilnya nanti bakal dibeli petani sawit.
Para petani sawit swadaya yang tergabung dalam FORTASBI berharap, penanaman bibit dipinggiran Sungai atau di hulu Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, terutama bibit buah-buahan seperti durian, matoa, kemiri dan lainnya, bisa memberikan manfaat pada masyarakat sekitar.

“Kami terus mempekuat kolaborasi dan membangun inovasi program antar petani sawit swadaya dengan masyarakat serta petani hutan. Karena semuanya sangat saling terkait, yang ujungnya keberadaan kebun sawit swadaya masyarakat juga bisa memberikan manfaat bagi kesejahteraan warga dan lingkungan yang berkelanjutan,” kata Kepala Sekretariat FORTABI Rukaiyah Rafik.
Saat ini, FORTASBI memiliki 56 anggota dengan jumlah petani swadaya yang dibina mencapai 14.687 petani, dan jumlah lahan/kebun yang digarap mencapai 32.987 hektar dengan produksi TBS bersertifikat sebesar 1.043.417 ton per tahun, atau setara dengan 208.683 ton CPO per tahun.















