Pembagian dana kredit RSPO jelang lebaran.

Petani Sawit Gelontorkan Rp 2,2 Miliar Kredit RSPO Bahagiakan Warga di Momen Lebaran

FORTASBI – Ada rasa bangga dan haru diterima para petani di momen lebaran tahun 2024 ini. Kumpulan Koperasi, BUMDes dan Perkumpulan petani sawit swadaya di berbagai daerah Indonesia, membagikan bingkisan lebaran atau yang lebih dikenal dengan Tunjangan Hari Raya (THR) ala warga, pada anggota dan masyarakat sekitar kebun.

Tercatat, organisasi petani tersebut BUMDes Mandala Jaya Kalimantan Tengah, KUD Tridaya Kalimantan Tengah, Koperasi Tanjung Sehati Lestari Jambi, FPS-MRM Jambi, APKSM Kalimnatan Tengah, APBML Jambi, Koperasi Belayan Sejahtera Kalimantan Timur, KUD Pemura Sumatera Selatan, Asosiasi Amanah Riau, Koperasi Sawit Bangkit Kalimantan Tengah dan KSU Karya Indah Kalimantan Tengah, memereka menyisihan dana untuk memberikan kebahagian bagi anggota dan warga.

11 Organisasi tersebut, menggunakan dana kredit insentif sertifikasi RSPO yang mereka terima untuk bantu petani dan masyarakat kurang mampu agar dapat rayakan hari raya dengan bahagia.

Paling tidak, dari 11 organisasi ini, ada yang pertama kali membagikan bingkisan lebaran atau THR. Umumnya, bingkisan atau THR yang diberikan berupa uang tunai, beras, gula, teh, kopi, syrup, makanan ringan dan sebagainya.

“Kami senang dengan inisiatif para pengurus lembaga petani sawit swadaya untuk memperhatikan kesejahteraan anggota dan masyarakat sekitar perkebunan di momen lebaran,” ujar Kepala Sekretariat Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) Rukaiyah Rafik.

Paling tidak, secara keseluruhan dana yang digelontorkan 11 organisasi ini, mencapai Rp 2,2 miliar yang dibagikan para ribuan anggota dan warga. Dengan rata-rata, minimal bingkisan yang diterima Rp 300 ribu per bingkisan.

“Kami berharap inisiatif ini terus dikembangkan tahun tahun mendatang. Artinya kredit RSPO yang didapatkan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan, dengan berbagai inisitif yang dilakukan para petani untuk keberlanjutan, diharapkan para buyer atau pembeli semakin banyak membeli kredit petani. Sehingga, bisa memberikan dampak yang siginifikan bagi masyarakat dan lingkungan perkebunan sawit swadaya.

“Kami yakin, semakin banyak petani yang menerapkan keberlanjutan, makan semakin baik rantai pasok industri ini, dan perusahaan atau buyer akan menerima manfaat yang bagus juga,” ungkapnya.

FORTASBI saat ini, memiliki 56 anggota dengan jumlah petani swadaya yang dibina mencapai 14.687 petani, dan jumlah lahan/kebun yang digarap mencapai 32.987 hektar dengan produksi TBS bersertifikat sebesar 1.043.417 ton per tahun, atau setara dengan 208.683 ton CPO per tahun.

Organisasi terus mendorong adanya sawit berkelanjutan dan mendukung inisiatif – inisiatif warga dalam menjaga ekosistem lingkungan, baik hutan dan hulu sungai sampai hilir.

Petani sawit swadaya yang menjadi anggota FORTASBI merupakan petani yang sudah memiliki sertifikat RSPO dan ISPO, sehingga dalam pengelolaan kebunnya mengedepankan keberlanjutan lingkungan.

Bahkan, berkolaborasi dengan para perempuan membuat kebun pembibitan selain sawit, yang hasilnya dibeli petani sawit untuk ditaman di daerah aliran sungai atau hutan desa.

| Rekomendasi Untuk Anda