FORTASBI – Di Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, dalam ruang yang selama puluhan tahun identik dan didominasi laki-laki dan kerja fisik yang keras perkebunan kelapa sawit swadaya, kiprah dan suara Eka Wati Febrianingsih terdengar mantap, hangat, dan sarat keyakinan untuk masa depan sawit berkelanjutan.
Eka bukan sekadar perempuan biasa di kebun sawit. Ia memegang amanah strategis sebagai Sekretaris II Koperasi Unit Desa Tani Subur sekaligus penanggung jawab program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), kelompok petani sawit yang sudah tersertifikasi.
Jauh sebelum duduk di kursi pengurus koperasi, langkah awalnya dirintis lewat jalan sunyi yang sarat penolakan, keraguan, dan peluh di lapangan. Lahir di tanah Kalimantan Tengah dari orang tua transmigran asal Jawa Tengah, Eka tumbuh besar berdampingan dengan kehidupan desa dan perkebunan kelapa sawit. Meski begitu, ia sama sekali tidak pernah membayangkan kelak hidupnya akan berkelindan erat dengan urusan tata kelola sawit swadaya.
Latar belakang pendidikannya bertolak belakang: ia adalah sarjana pendidikan bahasa yang sempat mengabdikan diri sebagai guru sekolah dasar. Titik balik hidupnya bermula pada tahun 2017. Kala itu, KUD Tani Subur membuka rekrutmen untuk tim Internal Control System (ICS) guna mendampingi sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan, RSPO dan ISPO. Eka memberanikan diri mendaftar dan lolos.
Dunia baru ini langsung mempelajari seluk-beluk sertifikasi yang rumit dan asing tanpa latar belakang ilmu agronomi membuatnya sempat limbung.
“Setelah baru satu minggu bergabung di ICS, saya sempat berpikir, ‘Sepertinya saya tidak bisa melakukan ini. Saya rasa saya ingin pergi,’” kenang Eka mengenang masa-masa awalnya.
Keteguhan hati mengalahkan keraguan. Mengusung prinsip belajar sambil bekerja, Eka memilih bertahan dan melangkah maju. Tentunya, banyak tantangan di lapangan bukan sekadar memahami standar sertifikasi, melainkan berhadapan langsung dengan manusia terutama petani sawit swadaya yang mayoritas laki-laki.

Pada rentang 2016–2017, baginya gagasan tentang sawit berkelanjutan masih terdengar asing dan mencurigakan bagi petani swadaya yang terbiasa bertani secara turun-temurun—seperti membuka lahan dengan cara membakar atau menggunakan pestisida tanpa alat pelindung.
Lebih berat lagi ketika Eka harus mengumpulkan dokumen legalitas seperti KTP dan Kartu Keluarga. Sebagian petani menolak karena curiga tanah mereka akan dirampas atau dijual ke pihak asing.
Namun, benturan terbesar kerap datang dari statusnya sebagai satu-satunya perempuan di tim ICS kala itu. Dalam berbagai pertemuan kelompok tani, Eka hampir selalu menjadi satu-satunya perempuan di tengah kerumunan petani laki-laki. Cibiran dan pandangan sebelah mata tak terhindarkan.
“Alaaah, wong wedok iso opo?”—ungkapan bahasa Jawa yang berarti “Perempuan bisa apa?”—kerap mampir di telinganya. Ada kalanya ia disuruh berdiam diri di kantor saja karena dianggap tidak mampu menahan kerasnya medan perkebunan. Alih-alih patah arang, sindiran itu justru menjadi bahan bakar bagi Eka. Ia membangun pendekatan dari hati ke hati, mendatangi petani secara personal, dan mengikis kekhawatiran mereka sedikit demi sedikit dengan sabar.
Perjuangan gigih itu berbuah manis. Dalam tempo satu tahun, proses sertifikasi yang didampinginya berhasil dirampungkan. Titik balik kepercayaan petani terjadi ketika mereka mulai merasakan manfaat ekonomi secara riil: penjualan kredit sertifikasi mengalirkan pendapatan tambahan bagi petani, bantuan sarana keselamatan kerja (APD) dibagikan, hingga tradisi tunjangan hari raya saat Idulfitri.
Petani juga merasakan kebanggaan tersendiri saat desa mereka mulai dikunjungi oleh delegasi internasional. Petani yang semula curiga akhirnya berbondong-bondong ingin bergabung. Kiprah Eka membuktikan bahwa ia bukan sekadar pelengkap.
Dari sosok yang diragukan, ia membuktikan diri mampu berdiri di garis depan. Dedikasi dan kapasitasnya terlihat nyata oleh para anggota koperasi, waktu membuktikan jika perempuan juga bisa lebih tangguh. (*)
















