FORTASBI – Menekan kecelakaan kerja di perkebunan kelapa sawit swadaya merupakan bagian dari praktik perkebunan yang baik.
Langkah untuk menekan kecelakan kerja harus terus dipastikan dan memastikan petani sawit swadaya atau pekerja, misalnya penyemprot mematuhi prosudur yang telah ditetapkan.
Diperlukan pelatihan yang terus menerus agar petani sawit swadaya dan pekerja perkebunan semakin paham tentang praktik perkebunan yang baik, seperti pemakian APD dan lainnya.
“Pelatihan adalah salah satu cara meningkatkan pengetahuan petani, dan pelatihan adalah cara untuk terus mengingatkan untuk menghindari kecelakaan kerja,” ujar Ketua Gapoktan Tanjung Sehati Jalal Sayuti.
Gapoktan yang berjumlah petani kecil 526 terdiri 374 pria, 152 Wanita dengan area atau total luas lahan yang dikelola 1354.4 telah berstatus bersertifikat, sehingga harus tetap mempertahankan prinsip dan kriteria RSPO (P&C).

“Makanya pelatihan untuk penyemprot itu penting, agar tidak asal semprot, aman serta juga kesehatan penyemprot tetap terjaga,” katanya.
Selain mendapatkan APD, para penyemprot juga diberikan layanan kesehatan gratis dan pengecekan berkala untuk mengurangi paparan dari bahan kimia.
Gapoktan yang berada di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, berharap dengan praktik perkebunan yang baik membuat produktivitas semakin meningkat.
Jalal memaparkan, selain sertifikasi RSPO, pihaknya juga akan melakukan sertifikasi ISPO yang memasuki tahun ke-3.

“Kami mendapatkan dukungan dari Wilmar sebagai mitra untuk sertifikasi dan bantuan APD. Ini mengurangi beban petani sawit swadaya,” katanya.
Ia menegaskan, dengan menguatkan kolaborasi antar pihak, diharapkan praktik sawit berkelanjutan semakin meningkat, terutama dengan terus adanya pelatihan maka kesadaran petani akan sawit berkelanjutan juga naik.
“Dana kredit RSPO dan bantuan dari mitra ini menjadi salah satu jalan, agar petani sawit swadaya semakin paham pentingnya keberlanjutan,” ungkapnya.
















