Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera

Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera Raih Penilaian Global Terbaik Soal Transparansi Lingkungan Dari CDP

FORTASBI – Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera yang merupakan anggota Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan (FORTASBI) yang memiliki sertifikat RSPO, menjadi sebagai koperasi pertama di Indonesia yang melakukan pengungkapan data lingkungan secara global melalui CDP (Carbon Disclosure Project).

Koperasi yang berada di Kalimatan Timur ini memperoleh skor tertinggi untuk kategori SME (Usaha Kecil dan Menengah).

Penilaian CDP dilakukan menggunakan metodologi independen dan ketat, yang mengevaluasi kualitas transparansi, kesadaran risiko, tata kelola lingkungan, serta tindakan nyata organisasi dalam merespons tantangan iklim dan lingkungan.

Koperasi ini mencatatkan tonggak penting dalam tata kelola keberlanjutan dengan meraih peringkat B dari CDP (Carbon Disclosure Project), organisasi nirlaba global yang mengelola sistem pengungkapan data lingkungan paling komprehensif di dunia.

Pada tahun 2025, hampir 20.000 organisasi dinilai dan lebih dari 22.100 organisasi melaporkan data melalui CDP. Sistem penilaian ini digunakan secara luas oleh investor dan pembeli global untuk menilai risiko, peluang, dan kesiapan rantai pasok dalam menghadapi transisi menuju ekonomi rendah emisi dan bebas deforestasi.

Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Jamaluddin menegaskan, pencapaian ini bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan posisi strategis koperasi petani dalam rantai pasok global.

“Peringkat B dari CDP bukan sekadar pengakuan administratif bagi kami. Ini adalah pernyataan sikap. Kami menunjukkan bahwa koperasi petani yang kerap diposisikan di pinggira mampu memenuhi standar transparansi lingkungan global yang selama ini didominasi oleh korporasi besar,” ujar Jamaluddin.

Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera secara sengaja ikut dalam pengungkapan lingkungan secara global.

” Kami memilih transparansi, meskipun itu berarti membuka diri terhadap penilaian yang ketat dan independen. Karena kami meyakini bahwa masa depan petani tidak ditentukan oleh pembelaan normatif, melainkan oleh data yang terbuka, disiplin pengelolaan, dan keberanian untuk bertransformasi.”

Ia menambahkan, capaian ini merupakan hasil kerja nyata para petani anggota koperasi dalam mengelola kebun secara bertanggung jawab, menjaga lanskap, dan menata produksi agar selaras dengan iklim serta tuntutan pasar masa depan.

“Ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan beban tambahan, melainkan strategi inti untuk bertahan dan bertumbuh,” tegasnya.

Jamaluddin memegaskan, pencapaian ini bukanlah garis akhir, melainkan pijakan awal untuk memperkuat tata kelola, konsistensi pelaporan, serta integrasi kepatuhan pasar global dalam operasional koperasi dan praktik petani anggota.

“Kami mengajak koperasi lain, pelaku usaha, dan mitra rantai pasok untuk berhenti menunda dan mulai bertindak. Transparansi lingkungan bukan hak eksklusif perusahaan besar—ini adalah tanggung jawab kolektif jika pertanian Indonesia ingin tetap relevan, kredibel, dan berdaya saing di tingkat global,” tutup Jamaluddin.

CEO CDP, Sherry Madera, menyampaikan bahwa skor CDP merupakan indikator penting bagi dunia usaha dan keuangan global.

“Skor CDP menunjukkan komitmen terhadap data berkualitas tinggi yang memungkinkan organisasi mengambil keputusan ekonomi yang positif bagi bumi, meningkatkan daya saing, dan memperkuat ketahanan jangka panjang,” ujarnya.

FORTASBI mengucapkan selamat atas penilaian ini. Hal ini semakin menunjukan jika petani sawit swadaya tersertifikasi, semakin bergerak maju dalam pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan dan bertanggung-jawab.

| Rekomendasi Untuk Anda