Audit RSPO

Mantapkan Langkah Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Untuk Ketelusuran Pasar Global

FORTASBI – Sertifikasi keberlanjutan bagi petani sawit swadaya adalah satu keharusan dan sangat krusial untuk memastikan masa depan industri sawit Indonesia, yang sering dipandang negatif dan penuh tantangan dalam isu ketelusuran.

Sertifikasi bukan hanya tentang memenuhi standar, tetapi tentang memberdayakan jutaan petani untuk mengelola kebun mereka secara profesional, meningkatkan produktivitas, dan menjamin kesejahteraan dari generasi ke generasi lewat pengelolaan perkebunan yang baik. (good agricultural practices (GAP).

Petani kelapa sawit swadaya, memegang peranan penting dalam industri kelapa sawit Tanah Air. Dengan berbagai keterbatasannya, petani sawit swadaya terus melangkah maju menuju pemenuhan tuntutan global akan praktik yang bertanggung jawab dan berkelanjutan lewat sertifikasi seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Meskipun sertifikasi belum menawarkan berbagai keuntungan yang siginifikan bagi petani, tetapi adopsi di kalangan petani swadaya masih terus menguat. Bagi petani sertifikasi adalah investasi jangka panjang walaupun menuju sertifikasi bagi petani swadaya tidaklah mudah.

Maka dari itu, pendampingan, kolaborasi dan intervensi dari berbagai kalangan menjadi sangat penting untuk memenuhi standar baik secara pengetahuan dan kelembagaan.

Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI), dalam 11 tahun kerja berdampak, terus melakukan pendampingan intensif, dengan fokus pada pelatihan peningkatan SDM, GAP, pertanian regeneratif, konservasi, pengelolan lingkungan hutan, gambut dan sumbder daya ait, edukasi dan penguatan kelembagaan.

Tercatat, pada 2025, telah tercatat 22.770 petani swadaya yang tergabung dalam 60 kelompok petani dengan luas area 65.837 lahan tersertifikasi, yang telah menjadi pejuang minyak sawit berkelanjutan.

FORTASBI terus meperluas jangkauan sertifikasi. Misalnya, di tahun 2025 telah melakukan pendampingan menuju sertifikasi berkelanjutan pada 5000 (cek lagi datanya) petani sawit swadaya di Ketapang, Kalimantan Barat dan Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan Simalungun dan Batubara Sumatera Utara.

Tentu, langkah-langkah di 2025 adalah aksi kecil FORTASBI untuk sawit berkelanjutan. Maka peran dan dukungan serta kolaborasi akan semakin memantapkan FORTASBI menuju ketelusuran global semakin meluas.

| Rekomendasi Untuk Anda