{"id":4987,"date":"2026-09-14T11:20:17","date_gmt":"2026-09-14T04:20:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/?p=4987"},"modified":"2026-09-14T11:20:17","modified_gmt":"2026-09-14T04:20:17","slug":"menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/","title":{"rendered":"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari"},"content":{"rendered":"<p><strong>FORTASBI &#8211;<\/strong> Tiga tahun adalah rentang waktu yang mencemaskan bagi seorang pekebun kelapa sawit swadaya. Di masa peremajaan atau replanting, pohon-pohon tua yang menjulang ditebang dan digantikan bibit muda. Pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) ini, kran pendapatan dari Tandan Buah Segar (TBS) praktis tertutup rapat.<\/p>\n<p>Bagi banyak petani kecil, masa tunggu 36 hingga 48 bulan tanpa penghasilan kerap menjadi momok yang memicu kerentanan ekonomi keluarga. Namun, di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, kecemasan itu dijawab dengan siasat cerdas.<\/p>\n<p>Petani mengawinkan regeneratif dan ketahanan pangan rumah tangga. Di hamparan kebun seluas empat hektare miliknya, Imfatul Hasanah, Manajer Internal Control System (ICS) Koperasi Jasa Makarti, menolak membiarkan gawangan sawitnya menganggur. Di sela-sela barisan bibit sawit yang masih muda, terbentang hamparan aneka tanaman hortikultura dan palawija: labu, cabai, tomat, hingga kacang tanah.<\/p>\n<p>&#8220;Tumpang sari di lahan replanting, menjadi ikhtiar menjaga pundi-pundi ekonomi keluarga. Selama tiga tahun ke depan belum ada hasil dari TBS, tetapi tanaman sayuran ini memberikan perputaran kas yang sangat signifikan,&#8221; tutur Imfatul.<\/p>\n<p>Kalkulasi ekonominya nyata. Labu madu dan labu parang yang dipanennya laku terjual Rp 15.000 per buah di pasar lokal. Bahkan, pembeli borongan (offtaker) siap menampung dengan harga Rp 20.000 per buah. Pemanfaatannya pun berlapis; sebelum buah matang, pucuk daun labu rutin dipetik dan dijual per ikat sebagai sayuran segar. Dijual di pasar kampung saja selalu habis, pembeli antre.<\/p>\n<p>Komoditas lain tak kalah menjanjikan. Tanaman kacang tanah yang dipanen memiliki pasar yang sangat terbuka. Pedagang pengumpul dan offtaker bahkan langsung mendatangi kebun untuk membeli kacang tanah basah dibeli pengepul Rp 17 ribu per kilogram. Selain itu untuk kacang komak basah atau encer Rp 25, komak kering Rp 30 ribu per kilogram. Ditambah cabai dan tomat yang harganya kerap fluktuatif di pasaran Kalimantan, kebun sela ini menjelma menjadi mesin penghasil uang harian dan mingguan bagi petani.<\/p>\n<p>Imfatul menegaskan, lahan yang aktif digarap dan ditanami sayuran secara otomatis bebas dari alang-alang dan gulma bahkan lahan tetap lembab. Tetapi kuncinya adalah pemeliharaan dan budidaya sayuran justru lebih ramah dan bernilai ekonomi dibandingkan tanaman penutup tanah konvensionalseperti Mucuna bracteata. Meski Mucuna unggul bagus bagi area sawit,tapi sifat tumbuhnya yang sangat agresif merambat kerap merepotkan petani.<\/p>\n<p>\u201cTujuh bulan kami terapkan tumpang sari sayuran ini, pertumbuhannya aman terkendali. Tidak ada masalah pada bibit sawit, berbeda dengan kacangan Mucuna yang harus sering dipotong sulurnya agar tidak melilit pokok sawit,\u201d jelas Imfatul.<\/p>\n<p>Kunci keberhasilan model ini, tegas ia, bertumpu pada juga manajemen air. Tanaman sayuran membutuhkan penyiraman teratur, minimal satu kali sepekan di musim kering. Menyiasati hal tersebut, Imfatul membangun embung-embung kecil di sudut lahan sebagai tendon air.<\/p>\n<p>Sebagai pengurus Koperasi Jasa Makarti, Imfatul tengah menggalang adopsi massal pola ini kepada anggota koperasi lainnya. Menurutnya, tumpang sari membuka ruang pemberdayaan ekonomi perempuan pedesaan. Ibu-ibu petani yang sebelumnya pasif menunggu panen TBS kini terlibat aktif dalam budidaya sayur, panen, hingga rantai pemasaran lokal.<\/p>\n<p>Selain tanaman pangan semusim, anggota didorong menanam pepohonan hutan bernilai tinggi seperti meranti, gaharu, dan ulin di gawangan mati atau batas tapal batas kebun.<\/p>\n<p>\u201cSiklus tanam sawit itu panjang, mencapai 25 tahun. Saat kelak sawit memasuki masa peremajaan putaran berikutnya, tegakan kayu hutan bernilai ekonomi tinggi ini sudah siap dipanen sebagai tabungan hari tua keluarga,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Praktik regeneratif dan tumpeng sari, membuktikan bahwa peremajaan sawit tak harus diwarnai episode paceklik. Dari tanah yang dirawat penuh keanekaragaman hayati, petani swadaya terutama yang sudah memiliki praktik baik sawit berkelanjutan terus memperlihatkan cara cerdas merawat dapur tetap mengepul dan lahan tetap produktif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>FORTASBI &#8211; Tiga tahun adalah rentang waktu yang mencemaskan bagi seorang pekebun kelapa sawit swadaya. Di masa peremajaan atau replanting, pohon-pohon tua yang menjulang ditebang dan digantikan bibit muda. Pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) ini, kran pendapatan dari Tandan Buah Segar (TBS) praktis tertutup rapat. Bagi banyak petani kecil, masa tunggu 36 hingga 48 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4988,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17,85],"tags":[925,926,923,758,94,136,95,673,171,57,924,153],"class_list":["post-4987","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-fortasbi","category-cerita-petani","tag-kacang-tanah","tag-komak","tag-kopaja-makarti","tag-koperasi-jasa-makarti","tag-peremajaan-sawit-rakyat","tag-petani-sawit-swadaya","tag-psr","tag-regeneratif-agrikultur","tag-replanting","tag-sawit","tag-tamanan-labu","tag-tumpang-sari"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v21.9.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari -<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Selain tanaman pangan semusim, anggota didorong menanam pepohonan hutan bernilai tinggi seperti meranti, gaharu, dan ulin di gawangan mati atau batas tapal batas kebun.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Selain tanaman pangan semusim, anggota didorong menanam pepohonan hutan bernilai tinggi seperti meranti, gaharu, dan ulin di gawangan mati atau batas tapal batas kebun.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/fortasbi\/?locale=id_ID\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-14T04:20:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/labu-petani-swadaya.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"746\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"555\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"author admin\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"author admin\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/\"},\"author\":{\"name\":\"author admin\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/person\/68f3ff9fdf4b759a1bf389d9cd36350b\"},\"headline\":\"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari\",\"datePublished\":\"2026-09-14T04:20:17+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-14T04:20:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/\"},\"wordCount\":574,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#organization\"},\"keywords\":[\"kacang tanah\",\"komak\",\"kopaja makarti\",\"Koperasi Jasa Makarti\",\"peremajaan sawit rakyat\",\"petani sawit swadaya\",\"psr\",\"regeneratif agrikultur\",\"replanting\",\"sawit\",\"tamanan labu\",\"tumpang sari\"],\"articleSection\":[\"Cerita FORTASBI\",\"Cerita Petani\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/\",\"url\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/\",\"name\":\"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-09-14T04:20:17+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-14T04:20:17+00:00\",\"description\":\"Selain tanaman pangan semusim, anggota didorong menanam pepohonan hutan bernilai tinggi seperti meranti, gaharu, dan ulin di gawangan mati atau batas tapal batas kebun.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/\",\"name\":\"Cerita Baik\",\"description\":\"Copyright \u00a92024 FORTASBI\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#organization\",\"name\":\"Cerita Baik\",\"url\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/cropped-cropped-LogoFORTASBI_NoBG.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/cropped-cropped-LogoFORTASBI_NoBG.png\",\"width\":945,\"height\":354,\"caption\":\"Cerita Baik\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.facebook.com\/fortasbi\/?locale=id_ID\",\"https:\/\/www.instagram.com\/fortasbi.indonesia\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/person\/68f3ff9fdf4b759a1bf389d9cd36350b\",\"name\":\"author admin\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d20d216c677b863944377e1fe16bd7cf4225528b86b44cc9a68b389774255b65?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d20d216c677b863944377e1fe16bd7cf4225528b86b44cc9a68b389774255b65?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"author admin\"},\"url\":\"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/author\/author-admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari -","description":"Selain tanaman pangan semusim, anggota didorong menanam pepohonan hutan bernilai tinggi seperti meranti, gaharu, dan ulin di gawangan mati atau batas tapal batas kebun.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari -","og_description":"Selain tanaman pangan semusim, anggota didorong menanam pepohonan hutan bernilai tinggi seperti meranti, gaharu, dan ulin di gawangan mati atau batas tapal batas kebun.","og_url":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/fortasbi\/?locale=id_ID","article_published_time":"2026-09-14T04:20:17+00:00","og_image":[{"width":746,"height":555,"url":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/labu-petani-swadaya.png","type":"image\/png"}],"author":"author admin","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"author admin","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/"},"author":{"name":"author admin","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/person\/68f3ff9fdf4b759a1bf389d9cd36350b"},"headline":"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari","datePublished":"2026-09-14T04:20:17+00:00","dateModified":"2026-09-14T04:20:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/"},"wordCount":574,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#organization"},"keywords":["kacang tanah","komak","kopaja makarti","Koperasi Jasa Makarti","peremajaan sawit rakyat","petani sawit swadaya","psr","regeneratif agrikultur","replanting","sawit","tamanan labu","tumpang sari"],"articleSection":["Cerita FORTASBI","Cerita Petani"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/","url":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/","name":"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#website"},"datePublished":"2026-09-14T04:20:17+00:00","dateModified":"2026-09-14T04:20:17+00:00","description":"Selain tanaman pangan semusim, anggota didorong menanam pepohonan hutan bernilai tinggi seperti meranti, gaharu, dan ulin di gawangan mati atau batas tapal batas kebun.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/2026\/09\/14\/menepis-paceklik-di-masa-replanting-napas-baru-petani-swadaya-lewat-tumpang-sari\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menepis Paceklik di Masa Replanting: Napas Baru Petani Swadaya Lewat Tumpang Sari"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#website","url":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/","name":"Cerita Baik","description":"Copyright \u00a92024 FORTASBI","publisher":{"@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#organization","name":"Cerita Baik","url":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/cropped-cropped-LogoFORTASBI_NoBG.png","contentUrl":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-content\/uploads\/2024\/01\/cropped-cropped-LogoFORTASBI_NoBG.png","width":945,"height":354,"caption":"Cerita Baik"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/fortasbi\/?locale=id_ID","https:\/\/www.instagram.com\/fortasbi.indonesia\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/person\/68f3ff9fdf4b759a1bf389d9cd36350b","name":"author admin","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d20d216c677b863944377e1fe16bd7cf4225528b86b44cc9a68b389774255b65?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/d20d216c677b863944377e1fe16bd7cf4225528b86b44cc9a68b389774255b65?s=96&d=mm&r=g","caption":"author admin"},"url":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/author\/author-admin\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4987","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4987"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4987\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4989,"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4987\/revisions\/4989"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4988"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4987"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4987"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ceritabaik.fortasbi.org\/first\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4987"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}